Membekali Pendidikan Kemandirian pada Anak

Berbagi, Informasi, islam, keluarga, Pendidikan

Setiap orangtua mengharapkan anaknya tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Kemandirian dimungkinkan oleh dua perubahan penting yang terjadi setelah masa bayi pada anak, yaitu; kemampuan untuk bergerak sendiri dan di saat anak mulai bisa berbicara.Perkembangan kemandirian seseorang terbentuk melalui proses yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan akan terus berkembang hingga akhirnya membentuk sikap yang relatif permanen pada masa remaja.

Kemandirian pada anak bisa diartikan sebagai tingkah laku yang dilakukan tanpa pengaruh dan bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Dan kemandirian pun dapat dimaknai sebagai keberanian untuk berbeda dengan tindakan dan pendapat orang lain yang takdifahaminya dan ia melakukannya sesuai dengan pemahaman sebisa yang ia cerna.

Terdapat dua bentuk kemandirian yang dapat diamati pada usia kanak-kanak, yaitu kemandirian instrumental dan emosional. Anak dapat dikatakan mandiri secara instrumental apabila ia melakukan kegiatan dan mampu mengatasi kesulitan yang dihadapi tanpa meminta bantuan orang lain – contoh: anak mampu menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan, berinisiatif dan mengerjakannya. Dalam hal ini anak mengenali keinginannya dan mengetahui apa yang harus dilakukannya. Selain itu, anak dengan kemandirian instrumental memiliki persistence (kegigihan) dalam menyelesaikan tugas, ingin mengerjakan pekerjaannya sendiri, dan aktif mengerjakan sesuatu. Sedangkan anak dengan kemandirian emosional ketika ia mampu mengerjakan tugas, penolakan, dan ancaman tanpa meminta dukungan emosional dari orang lain.

Kemandirian erat hubungannya dengan ketergantungan. Ada dua karakteristik dari ketergantungan; -sama dengan kemandirian- ketergantungan emosional dan instrumental. Seorang anak dikatakan memiliki sifat ketergantungan apabila ia mencari bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugasnya. Mekanismenya, anak berusaha mencari pertolongan. Terdapat 3 (tiga) bentuk kebutuhan pada sifat ketergantungan emosional; kebutuhan akan rasa aman (need for reasurance), kebutuhan akan afeksi (need for affection), dan kebutuhan akan pengakuan (need for approval).

Uraian kemandirian di atas merupakan standar umum di awal usia atau masa kanak-kanak (usia 2 – 6 tahun). Perkembangan yang baik pada setiap individu apabila ia mampu melalui rangkaian tugas perkembangan dengan sempurna dan tepat waktu di setiap interval usia yang dilaluinya. Saat anak berhasil menunjukkan kemandirian instrumental dan emosional dengan baik, berarti ia dinilai berhasil mencapai tugas perkembangannya.

Muncul pertanyaan: Bagaimana agar anak sukses melalui tugas perkembangan kemandiriannya? Jawabannya, orangtua harus Membekali Pendidikan Kemandirian pada Anak sejak kecil. Bekali anak Anda dengan latihan, seperti menyiapkan anak agar mampu menolong diri sendiri sesuai kemampuannya. – misal: makan, minum, ambil mainan, menyisir rambut, memakai kaos atau kemeja (baju) dan hal lain yang sekiranya bisa dilakukan dengan mudah oleh anak-anak.

Hindarilah sikap orangtua yang senantiasa ‘ingin cepat selesai’, seperti; ketika anak ingin menuangkan air ke dalam gelas plastiknya, orangtua sebaiknya membiarkan anak untuk mencobanya, orangtua tinggal mengawasinya – jangan pernah mengambil alih pekerjaan yang sedang dilakukan anak-anak hanya karena orangtua khawatir anak-anak menumpahkan air atau kehausan.

Yang seringkali terjadi, orangtua khususnya kaum ibu, karena merasa kasihan kepada anaknya bila perlu sesuatu dikerjakan sendiri akhirnya malah menghambat potensi kemandirian anak. Padahal, saat ibu membiarkan anaknya untuk mencoba atau berusaha terhapa suatu pekerjaan yang dikerjakannya sendiri di situlah letak keberhasilan atau kemenangan bahkan kebanggaan bagi dirinya menuju kemandirian.

Ketahuilah, ketika anak telah memiliki ruang untuk mencapai kemandirian instrumental, akan muncul rasa percaya dirinya sehingga ia takkan pernah menggantungkan nasibnya pada orang lain. Dan kasih sayang, kehangatan dan kenyamanan yang dibangun oleh orang-orang terdekat akan menghindarkan anak dari ‘mencuri perhatian’ di luar. Mengarahkan anak menjadi sosok yang mandiri perlu disertai dengan mengajarkan anak pengetahuan tentang batasan atau aturan mana yang boleh dan mana yang tidak.

Sempurnanya sosok anak yang tumbuh-kembang dengan mandiri apabila ia memiliki kebebasan untuk melakukan semua hal yang diinginkannya sekaligus mengetahui semua hal yang takboleh dilakukannya. Orangtua yang memberikan batasan dengan tegas akan membawa perasaan aman kepada anak karena ia mengetahui bahwa orangtuanya peduli kepadanya. [sumber: Nuansa Persada/April 2015]

Individualisme:

  • pertanyaan tentang kemandirian anak sd (2)

About adetruna.kerja@gmail.com

Saya admin blog ini - fyi, saya pedagang madu online. Tinggal di Soreang, driver 1k km Datsun Risers Expedition etape 2 Sulawesi, penyuka buah duren & nangka.

2 comments

Monggo Komentar :)