Beranda > Berbagi > Saya Bangga Bisa Membanggakan Datsun Risers Expedition

Saya Bangga Bisa Membanggakan Datsun Risers Expedition

Baik, sampai dengan kalimat ini mengalir. Iya yang ini! Saya masih diliputi rasa senang yang berlebih dan sekaligus merinding. Senangnya, karena tadi malam di sebuah tempat makan Ayam Penyet takjauh dari Misiliana Hotel – hotel berbintang 4 – tempat seluruh Risers (sebutan bagi kami yang mengendarai G+ Panca (unit terbaru kelas City Car dari Datsun); saya, Bang Aswi dan Ali Muakhir atau yang tergabung dalam Tim Risers 1 menjadi tim terbaik rangkaian Perjalanan Etape 2 mulai dari kota Palu lalu ke Mamuju berakhir di Toraja.

Dengan berpredikat sebagai Tim Terbaik Datsun Risers Expedition, maka kami berhak memenangkan kamera Go Pro. Alhamdulillah… Sebuah penilaian yang luar biasa dari Datsun Indonesia, bahagia sekali bisa membawa diri menuju kemenangan, mengharumkan nama #BloggerBDG.

Merindingnya, kemenangan ini seperti lukisan yang tergambar jelas dalam ingatan. Maka berhati-hatilah dengan harapan atau doa atau juga impian. Lukislah selalu harapan, doa dan impian dengan warna-warna yang Indah hindari deh goresan warna-warna kusam, abu-abu dalam setiap mimpimu, kawan! Ceritanya begini …

Satu hari sebelum pergi ke Bandara Soekarno Hatta untuk terbang ke event Datsun Risers Expedition, saya bilang sama istri, “Beb, kebayang nggak kalo panitia di perjalanannya nanti membagi-bagikan kamera Go Pro ini ajang touring lho, banyak yang bisa diabadikan. ” Istri saya hanya mengamini saja. Eh, benar saja! Tadi malam (Kamis, 17/9) telah diumumkan di hadapan Riser yang lain (2 hingga 5), Riser 1 atau Tim BloggerBDG berhasil menjadi tim terbaik dan mendapatkan kamera Go Pro – bukan 1 Go Pro dibagi bertiga, nggak lah! Masing-masing orang dapat 1 unit. Sekali lagi … Terima kasih Datsun Indonesia.

Tim Riser1 atau #BloggerBDG dapat Kamera GoPro dari ajang Datsun Risers Expedition Sulawesi 2015 etape 2
Tim Riser1 atau #BloggerBDG dapat Kamera GoPro dari ajang Datsun Risers Expedition Sulawesi 2015 etape 2

Saya Bangga Bisa Membanggakan Datsun Risers Expedition

Pernyataan membanggakan tidak datang dari saya, ungkapan ini disampaikan langsung oleh pihak Datsun Indonesia, mas Puji selaku Public Relation. Saat itu tim Riser 1 diunggah fotonya lewat jejaring sosial Path. Its been an honour for Us (Datsun) …

Datsun Risers Expedition Sulawesi 2015 Bangga kepada Tim BloggerBDG

***

Suasana Mistis dan Eksotis di Tana Toraja

Kita sudahi saja kebahagiaan yang sangat seru bagi Tim Blogger Bandung.Sekarang saya ajak pembaca untuk menikmati resume dari perjalanan saya oleh Datsun Risers Expedition diajak ke beberapa destinasi wisata yang terdapat di Sulawesi, seperti melihat Tongkonan. Berangkat dari Mamuju menempuh perjalanan selama 12 jam dan kondisi jalanan berliku-liku, berkelok-kelok, menanjak dan jtentu saja menurun mewarnai perjalanan kami.

Yang masih baru nih, pembaca … Pada hari ke-3 (Kamis, 17/9), semua risers diajak ke Kete Kesu Rantepao di Toraja Utara atau lebih tepatnya di kampung Bonoran, kelurahan Tikunna Malenong, kecamatan Sanggalang.

Pemandu Wisata tengah Menjelaskan tentang Tongkonan Suku Toraja di hadapan Risers #DRESulawesi Etape 2
Handoko (baju belang), Pemandu Wisata tengah Menjelaskan tentang Tongkonan Suku Toraja di hadapan Risers #DRESulawesi Etape 2

Bapak Handoko -pemandu tur kami- menyebutkan bahwa Toraja itu terdiri dari 2 suku kata daerah; To berarti orang dan raja yang berarti Raja. Jadi, Toraja merupakan orang dari keturunan raja-raja, terpandang atau bangsawan.

Menjadi orang terpandang, masyarakat suku Toraja membuktikannya dengan memasang tanduk tepat di pilar yang berdiri tegak di tengah-tengah tongkonan dan menggantung tulang rahang dari tengkorak kepala kerbau. Semakin banyak tanduk serta tulang rahang dari tengkorak kepala kerbau yang dipasang maka pemilik tongkonannya bisa dipastikan adalah orang yang kaya raya.

Secara pribadi,saya sangat takjub dengan pemandangan eksotis dan nuansa mistis Tana Toraja semisal melihat tongkonan yang menyatu dengan alam serta cara masyarakat mengubur jenazah. Bila selama ini saya melihatnya di lembaran kartu pos yang tengah mengkampanyekan objek wisata atau di televisi dan media cetak – maka bahagia sekali ketika Datsun Indonesia melalui Datsun Risers Expedition membawa saya melihat secara nyata keindahan Tana Toraja di Kete Kesu, Sulawesi Selatan.

Pemandu perjalanan kami menyebutkan, ada tiga jenis kuburan bagi masyarakat Suku Toraja; kuburan moderen, kuburan dalam batu dan kuburan dalam tanah. (Saya akan informasikan nanti ya). Di saat mengunjungi kuburan di dalam gua, ada yang membuat saya tertarik untuk mengajaknya ngobrol. Saat memasuki mulut gua tempat para jenazah bersemayam, seorang anak bertubuh kecil, menyambut para pengunjung. Namanya Tamo Rampolabe, ia berprofesi sebagai pemandu wisata. Hebat ya?

Seolah sudah siap menjawab semua pertanyaan pengunjung dengan pengetahuannya seputar Kete Kesu dengan Tongkonan dan Kuburan suku Toraja. Tamo yang masih grogi menghadapi wisatawan bule mengatakan, “Kalo lagi ramai sehari bisa mendapat 30 ribu. Tapi kalo sedang sepi bisa sama sekali tidak mendapatkan penghasilan.” Dan Tamo pun mengaku sangat enjoy dengan profesinya karena bisa bertemu dengan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.

Kuburan-yang-digantung-di-gua-kete-kesuCaption:

  1. Kuburan gantung.Menurut pak Handoko, kuburan gantung merupakan peninggalan budaya leluhur suku Toraja saat mereka belum menemukan cara mengubur di gua.
  2. Tamo Rampolabe. Anak berusia 15 tahun berprofesi sebagai pemandu wisata di Kete Kesu.
  3. Tengkorak Manusia. Di Kete Kesu tengkorak manusia diletakkan begitu saja hingga berserakan. Dan takjarang tangan jahil suka mencurinya lalu dijual dengan harga yang tinggi.

Tidak berakhir di Kete Kesu, perjalanan dirangkai dengan berangkat ke destinasi lain, yaitu; Londa, Rantepao. Di sini saya dipandu oleh bapak Samuel. Destinasi Londa masih tempat menyimpan jenazah. Dalam satu lorong gua, jenazah satu dengan jenazah lain memiliki hubungan keluarga. Bila melihat beberapa pakaian dan barang-barang lain itu merupakan barang kesayangan jenazah.

Ada dua tengkorak yang memiliki hubungan seibu sekali atau bapak dan mamak bersaudara; karenanya sejoli ini tidak bisa dinikahkan. Kecewa tidak bisa dijodohkan, akhirnya pasangan ini memilih untuk menggantung diri dalam 1 tali. Kejadian ini terjadi pada tahun 1972. “Setelah peristiwa itu mereka di kubur di sini,” jelas pak Samuel, 50 tahun.

Mengunjungi Londa, RantepaoCaption:

  1. Saya di dalam gua saat mengunjungi Londa, Rantepao dengan bantuan petromak yang dibawa oleh pemandu wisata.
  2. Samuel (55 tahun) pemandu wisata di objek wisata lain yang menyajikan pemandangan gua sebagai tempat mengubur jenazah masyarakat suku Toraja.
  3. Risers (sebutan bagi peserta Daihatsu Risers Expedition 2 etape 2 di Sulawesi.
  4. Tengkorak yang terdapat di dalam gua di Londe Rantepao. Rokok yang berserakan di dekat tengkorak merupakan sedekah dari pengunjung biasa. Pengunjung dari kalangan keluarga selalu sedekah rokok dengan jumlah bungkusan.

Hari ke-2: Senangnya Menghibur Anak-anak SDN 138 Kulinjang di Enrekang
Adalah Om Ical, Project Official perjalanan DRE tersebut. Di awal perjumpaan untuk kali pertama di Hotel Sutan Raja sebagai tempat untuk bermalam saja (transit), sudah menekankan sepanjang perjalanan untuk senantiasa berbaur dengan masyarakat yang dilewati dan berbagi kebaikan. Salah satunya kami singgah di SDN 138 Kulinjang, kecamatan Turra, Kabupaten Enrekang di hari ke-2 (Kamis, 17/09/2015). Dan seluruh Risers memiiki tugas untuk berbagi inspirasi dengan kapasitasnya masing-masing.

Gerbang masuk SDN 138 Kulinjang Kel. Turra Kec. Enrekang Kab. Enrekang
Nampak ibu-ibu guru di Gerbang masuk SDN 138 Kulinjang Kel. Turra Kec. Enrekang Kab. Enrekang

Anak-anak yang polos tapi pintar dan memiliki rasa percaya diri yang sangat besar, ini meringankan beban saya untuk mengajak mereka bermain dan bernyanyi. Gak kebayang kalau anak-anak tersebut malu-malu tentunya butuh upaya lebih agar anak-anak mau mengikuti apa yang saya ajak saat bermain. Kami semua bahagia meski hanya berlangsung sekitar 15 menit. Kita harus melanjutkan perjalanan dan ya Allah.. Saat saya menuju Datsun G+ Panca untuk melanjutkan perjalanan, dari belakang anak-anak mengajar saya, dan mereka berebut meraih tangan ini dan menciumnya dengan penuh takdim, saya berusaha menyembunyikan perasaan haru ini hingga akhirnya anak-anak lucu dan pintar SDN 138 Kulinjang kami tinggalkan.

Risers berbaur dengan anak SDN 138 Kulinjang Enrekang
Risers berbaur dengan anak SDN 138 Kulinjang Enrekang (foto Bang Aswi)

Di hari yang sama (hari ke-2) – Sebelum ke SDN 138 Kulinjang, Tim Datsun Risers Expedition menjelajah kebun sawit di desa Tikke Raya, Pasang Kayu dan sekligus makan siang. Perjalanan di sini tuh bikin panik, debu-debu yang meliputi seluruh kendaraan mengaburkan pandangan. Tapi ini tidak berlangsung lama.

Hari Pertama yang Penuh dengan Suka Cita
Dikatakan penuh suka cita karena menurut panitia, Etape 2 ini terbilang istimewa karena tidak seperti di etape 1; ada Driving Adjustment; risers diberi kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan kendaraan yang akan ditumpangi. Dan penyesuaian ini tidak tanggung-tanggung kami berkeliling kota dan mengunjungi beberapa objek wisata. Seperti mendatangi pusat laut untuk berenang di kolam unik, seperti sumur besar alami dengan airnya yang jernih – saking jernihnya seperti aquarium besar ikan dan batu karang di dalamnya nampak jelas. Dari Riser 1 atau tim #BloggerBDG hanya bang Aswi yang berani terjun bebas dan menikmati dan merasakan sensasinya.

Atau berkesempatan naik kapal pengangkut tank dan helikopter, KRI Teluk Banten yang bertambat di laut Donggala. Semua ruang yang ada di kapal laut ini kami kunjungi.

Masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang pengalaman berkendara di Sulawesi dalam rangkaian Datsun Risers Expedition Etape 2. Berhubung kami harus check out untuk bertolak ke Makassar, cerita akan saya lanjutkan nanti ya … namun ini yang terakhir, pembaca …

Berhati-hatilah dengan mimpimu kawan … Tim Riser 1 atau tim #BloggerBDG berhasil ‘menggondol’ kamera Go Pro 😀

Keberhasilan ini sudah membuat kami merinding, saya di perjalanan bilang ke tim; kebayang ya panitia bagi-bagi peserta kamera Go Pro?! Dan ternyata benar-benar mimpi yang menjadi nyata! So watch out your dream, hope and will — everything must be good! Waste your evil side. Dan pada akhirnya Saya Bangga Bisa Membanggakan Datsun Risers Expedition! [|]

adetruna.kerja@gmail.com
Saya admin blog ini - fyi, saya pedagang madu online. Tinggal di Soreang, driver 1k km Datsun Risers Expedition etape 2 Sulawesi, penyuka buah duren & nangka.
http://blog.kliksoreang.com

12 thoughts on “Saya Bangga Bisa Membanggakan Datsun Risers Expedition

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: