Menginjakkan Kaki untuk Kali Pertama di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu

Berbagi, Otomotif

Jadwal tiba kami dari Bandara Soetta ke sini (Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu) lebih cepat, yaitu kurang dari pukul 8.35. Alhamdulillah, semua dari wajah #BloggerBDG nampak sumringah, bahagia! Akhirnya saya Menginjakkan Kaki untuk Kali Pertama di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu. Bang Aswi pernah berseloroh, “Serasa mimpi. Setelah 40 tahun, akhirnya menginjakkan kaki di bumi Celebes.” kurang lebih begitu dia ungkapkan dengan penuh rasa bahagia.

Sama bang… Saya juga seperti ketiban durian runtuh (waduh sakit dong hahaha!) ya rejeki takdisangka-sangka, ada yang mengajak ke Sulawesi, ya Abang lah orangnya! Setelah turun dari pesawat Lion Air tipe Boeing 737-900 ER, kami bertiga; adetruna, bang Aswi, dan pak Ali (Muakhir) langsung menuju pintu keluar. Di sini pula kita mengawali perkenalan dengan tim lain yang juga berpartisipasi menjajal jalanan Sulawesi dengan mengendarai city car Datsun Go+ Panca. Rupanya, ada 3 tim dalam pesawat yang sama yang terbang dari Jakarta menuju Palu pada pukul 5 pagi itu (Senin, 14/9). Lagi-lagi bro … Kami mengabadikan momentum Menginjakkan Kaki untuk Kali Pertama di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu.

Lets begin the adventure @alimuakhir @kang_adetruna #DatsunRisersExpedition #BloggerBDG @id_datsun

A photo posted by Sang Pejalan (@bangaswi) on

Potret di atas diabadikan menggunakan gawai kepunyaan Bang Aswi, pada 14 September pukul 8:25 via Instagram.

Menginjakkan Kaki untuk Kali Pertama di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu

Setelah memotret, kami dijemput oleh panitia event Datsun Risers Expedition Sulawesi yang sudah memasuki etape 2 (Sebelumnya atau etape 1 berlangsung mulai dari Manado – Gorontalo – Palu). Dan hari itupun merupakan kali pertama saya dan teman-teman merasakan kenyamanan sebuah kendaraan tipe City Car dari Datsun; Go+ Panca hatchback.

Dari Bandara hanya memakan waktu sekira 10 menit menuju tempat peristirahatan rombongan Datsun Risers Expedition Sulawesi etape 2 ini. Hotel berbintang 4, yaitu Hotel Sutan Raja sudah dipilih panitia untuk menjadi tempat menginap semua rombongan yang rata-rata berasal dari kota tim sepakbola Persib, Bandung dan sisanya dari Balikpapan.

Setelah beramah tamah dengan pihak panitia event Datsun Risers Expedition Sulawesi yang mana selama beberapa hari sebelumnya sudah saling mengenal via Whatsapp guna berkoordinasi agar tiba di kota Palu tepat waktu – rombongan dipersilakan memasuki kamar yang telah diatur oleh tim Datsun. Kami diberi waktu yang cukup buat beristirahat.

Driving Adjustment pun Dimulai!

Semua tim sempat briefing yang dipimpin oleh Prohject Officer, Om Ical, ada kesepakatan bahwa tepat pukul 11 siang semua tim Datsun Risers Expedition Sulawesi supaya bersiap-siap dengan mengenakan seragam berupa kemeja Datsun dengan warna khaki.


Pada siang itu (14/9) panitia memberikan sebuah bonus kepada semua peserta ekspedisi Datsun Sulawesi yang tidak panitia berikan pada peserta di etape 1: Manado – Gorontalo – Palu – yaitu beradaptasi langsung dengan jalanan kota Palu dan juga mobil Go+ Panca yang akan dikendarai beberapa hari ke depan (Driving Adjustment).

Dengan penuh rasa senang, saya mulai merasakan performa Datsun Go+ Panca baik handling serta akselerasinya. Injakan perseneling, rem serta gas pun takluput dari penyesuaian. Sesuai dengan arahan Road Captain, pak Rommy, “Semua pengemudi supaya berhati-hati saat menggunakan city Car Datsun Go+ Panca saat nanti di jalan, sebab semuanya serba ringan.”


Sematan di atas dari tweet-nya Bang Aswi – Saya, pak Ali dan RC; pak Rommy.

Siang hingga petang, pada hari itu semua rombangan diajak ke beberapa tempat menarik di Palu, sebut saja; Jembatan Ponulele, Masjid terapung Arkam Babu Rahman, naik Kapal Perang KRI Teluk Banten dan yang menyenangkan hampir semua rombongan yaitu saat berenang di sumur langka dan unik di Pusat Laut Donggala.

Ciri khas Kota Palu dgn jembatan lengkungnya #DatsunRisersExpedition #BloggerBDG @id_datsun

A photo posted by Sang Pejalan (@bangaswi) on

Jembatan Ponulele adalah jembatan yang terletak di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Jembatan yang diresmikan pada Mei 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini membentang di atas Teluk Talise yang berada di kelurahan Besusu dan Lere. Jembatan ini pun menghubungkan kecamatan Palu Timur dan Palu Barat. Jembatan kuning ini merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Perancis. Jembatan Ponulele memiliki panjang 250 m. Titik tertinggi lengkung Jembatan Ponulele adalah 20,2 m dari badan jembatan, adapun lebar Jembatan Ponulele adalah 7,5 m, sedangkan luas permukaan besi total jembatan ini mencapai 6234,40 m2.

  • Masjid Arkam Babu Rahman dibangun pada awal 2011 dan diresmikan pada Desember 2011.
  • Daya tampung Masjid Arkam Babu Rahman mampu menampung 200 jamaah, bisa terbukti saat shalat Jumat.
  • Masjid Arkam Babu Rahman memiliki keramik asli dari India, kubah masjidnya memancarkan cahaya tujuh warna di malam hari.


KRI Teluk Banten (516) adalah sebuah kapal perang tentera laut Indonesia kelas LST (Landing Ship Tank). KRI Teluk Banten berperan mempertahankan Indonesia dari kapal-kapal musuh. KRI Teluk Banten dibuat oleh Korea-Tacoma SY, Masan, Korea Selatan pada tahun 1982. Kapal lain yang memiliki kelas yang sama yaitu; KRI Teluk Semangka, KRI Teluk Penyu, KRI Teluk Mandar, KRI Teluk Sampit, KRI Teluk Banten, dan KRI Teluk Ende. KRI Teluk Banten mempunyai 117 orang anak kapal termasuk pegawai. KRI Teluk Banten dilengkapi untuk pengangkut tentera dan mampu membawa 202 tentera infantari. Besar Kapal KRI Teluk Banten, memiliki panjang 100 m X 15.4 X 4.2m (328 X 50.5 X 13.7 kaki).

Pusat Laut Donggala berlokasi di Area pantai Donggala di Dusun Simbe, Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah. Dari Kota Palu wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi yang berjarak sekitar 45 kilometer sama dengan jarak tempuh 45 menit perjalanan.

Hanya satu yang luput dari agenda, yaitu kuliner Kaledo. Ketidaksempurnaan wisata ini seakan-akan sebuah kode bagi saya untuk, “Kembali Ke Kota Palu” – ya mudah-mudahan saya bisa balik lagi ke kota Palu sekadar untuk mencicipi Kaki Lembu Donggala, amiin 😀 [|]

Rujukan:

  • id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Palu_IV
  • travel.detik.com/read/2014/03/28/133042/2539600/1519/palu-punya-masjid-terapung-dengan-kubah-7-warna
  • id.wikipedia.org/wiki/KRI_Teluk_Banten
  • gocelebes.com/pusat-laut-donggala-keajaiban-alam-di-sulawesi-tengah/

About adetruna.kerja@gmail.com

Saya admin blog ini - fyi, saya pedagang madu online. Tinggal di Soreang, driver 1k km Datsun Risers Expedition etape 2 Sulawesi, penyuka buah duren & nangka.

Monggo Komentar :)