Mengunjungi Farmhouse Susu Lembang Bersama Keluarga

Berbagi, keluarga, Kesehatan, Wisata

Akhirnya saya menemukan momentum bisa jalan-jalan bareng keluarga secara lengkap. Maklum sebagai pengguna kendaraan bermotor roda dua ditambah anak-anak sudah pada gede, iya fisiknya sudah hampir menyusul ibunya bahkan bisa jadi saya bapaknya lama-lama akan disusul juga – sangat sulit untuk bisa liburan alias jalan-jalan dengan formasi lengkap. Mau ditaruh di mana mereka, coba?

Sekalipun motor saya verza, sulit membawa anak dan istri berempat naik motor. Jadi jalan satu-satunya adalah harus menggunakan mobil. Ada dua opsi yang sangat mungkin untuk dilakukan saat kemarin (Minggu, 16/10) memutuskan untuk Mengunjungi Farmhouse Susu Lembang Bersama Keluarga – kalau nggak menggunakan Taksi Blue Bird ya pakai Uber.

Saya membuka aplikasi Android kedua opsi kendaraan yang akan menjadi tunggangan kami sekeluarga ke tempat tujuan. Karena yang lebih dahulu terbuka adalah aplikasi Uber dan dengan begitu cepatnya menemukan driver yang bisa membawa kami ke Farmhouse Susu Lembang maka kamipun menggunakan taksi Uber.

Setelah lebih kurang 20 menit menunggu jemputan datang, kami sekeluarga akhirnya berangkat ke kota Lembang. Sepakat untuk masuk pintu tol Kopo, hanya memerlukan waktu sekira 25 menit saja dari Soreang. Itu pun dijeda dengan berhenti dulu di sebuah mart sekitar Kopo Bihbul untuk beli-beli makanan dan minuman sebagai bekal selama di perjalanan.

Target kami masuk ke jalan tol adalah untuk keluar di pintu Pasteur. Hanya memakan waktu 25 menit, sudah termasuk dengan upaya membelah macet di mulut pintu gerbang tol dan menunggu lampu hijau – kita sudah keluar dari tol.

Berbelok ke jalan Surya Sumantri dan memutar kendaraan agar bisa menembus jalan Setrasari akhirnya masuk jalan raya Setiabudi. Dari Setiabudi menuju Farmhouse Susu Lembang melewati ruas jalan yang belum begitu ramai akhirnya kami pun sampai di tujuan (07:45). Masih pagi, cuacanya cerah …

Memang tujuan kami berangkat lebih pagi (pukul 05:59) dari rumah adalah menghindari kemacetan. Setelah mengurus pembayaran, kami pun turun dari Daihatsu Xenia berewarna putih- taksi Uber yang kami tumpangi.

riwayat perjalanan dan tarif akhir dari soreang ke farmhouse Lembang

Suasana hati masih merasakan kegembiraan sebab bisa tiba sesuai harapan, tapi ter-nya-taaa …

Gerbang untuk memasuki Farmhouse Susu Lembang masih ditutup! Sekilas mengamati antrian kendaraan yang juga hendak sama-sama masuk, saya jadi heran, “Dari jam berapa mereka sudah bertengger menunggu di sini?”

Momentum ini tidak disia-siakan oleh para pedagang asongan mulai dari makanan dan minuman, mainan anak-anak hingga aksesoris berpenampilan (kacamata, topi, kaos dan lain-lain).

Kedua anak saya nampak mulai gusar, mereka taksabar ingin segera masuk ke dalam Farmhouse Susu Lembang. Agar sedikit bisa melupakan kegusarannya, saya ajak mereka semua untuk lebih mendekat ke tepi jalan yang terdapat tulisan terpampang; Farmhouse Susu Lembang untuk berswafoto.

Selama mengantri, anak dan istri saya cukup lama juga berada di pinggir jalan seberang gerbang masuk Farmhouse Susu Lembang. Antrian kendaraan yang sekadar lewat dan yang bergerak pelan karena mencari lahan parkir, membuat jalanan sedikit padat oleh mobil yang begerak merayap. Tentu saja knalpot dari setiap kendaraan mengepulkan asap yang cukup menjadi polusi pagi itu.

 

Aha! Gerbang Farmhouse Susu Lembang terlihat sudah dibuka, orang-orang mulai menyemut untuk mengantri.

antrian menyemut di jalur masuk ke dalam area Farmhouse Susu Lembang

Antrian cukup padat merayap dan akhirnya kami pun kemudian masuk ke dalam lokasi.

tiket masuk ke Farmhouse Susu lembang berfungsi juga sebagai voucher

Pukul 9 lebih sedikit, cuaca yang cerah namun sudah membuat semua pengunjung berkeringat. Maklum, bagi pengunjung yang masuk tanpa kendaraan harus baris dibagi 2 antrian. Antriannya lumayan membuat badan berkeringat. Dan saya perhatikan banyak anak kecil yang berkeringat.

Entah …. Apakah diantara anak-anak yang saya lihat ada yang mengidap miliria ataukah tidak? Dari portal Lifebouy dijelaskan seputar, “Apa sih Miliria itu?

Miliria adalah biang keringat yang muncul sebagai gangguan kulit. Umumnya dialami manusia dengan jumlah keringat yang berlebih. Biang keringat ditandai seiring munculnya bintil-bintil kecil berwarna kemerahan di permukaan kulit.

Tidak saja pada orang dewasa, biang keringat kerap menghampiri anak-anak. Dan memang, biang keringat lebih sering menimpa kepada anak-anak. Pasalnya, kelenjar keringat pada anak-anak belum berkembang dengan sepenuhnya, sehingga keringat mudah tersumbat pada pori-pori kulit.

Kemarin di sekitar Farmhouse Susu Lembang, walaupun masih puku 9 pagi tetapi suhunya cukup memicu badan kita berkeringat. Dan biang keringat mampu terjadi di saat temperatur udara meningkat. Perhatikan gejala dari miliria berikut ini.

Ruam-ruam miliria akan muncul pada lipatan kulitnya atau pada bagian tubuh yang sering tertutup pakaian, misalnya; leher, punggung, bokong, hingga kening anak — terutama anak-anak yang kerap bertopi.

Lazimnya tidak menimbulkan rasa nyeri, tetapi rasa gatalnya yang cukup menganggu, biang keringat pada anak akan membuat mereka tidak merasa nyaman, bahkan anak cenderung merasa gelisah. Tapi mudah-mudahan semua anak-anak yang hadir di Farmhouse kemarin tidak ada yang diserang oleh Miliria alias biang keringat. [w3/10_IBD]

Individualisme:

  • jalan-jalan di lembang bareng keluarga (1)
  • mengunjungi farm house (1)

Monggo Komentar :)