Pasca Hiking; euweuh kakapok…

arkanleema

===SABTU, 24 April 2010===

07.30: BERANGKAT dari kantor meski sedikit dagdigdug ketika parkir sejenak di Caringin Tilu, karena mobil –khususnya– yang kami tumpangi jarum bensin menunjukkan ’empty’. Sampe ngga ya? 🙂

08.00: Alhamdulilllah, kita sampai juga di tujuan; Desa Cimenyan. Di drop para sopir yang dengan baik hati mengantar kami ke desa di atas gunung. Tiga mobil pun beruyunan kembali pulang…

Tidak lantas segera berangkat hiking, karena beberapa orang terkait perkara dengan perut masing-masing. Orang-orang yang tidak ada perkara, mereka mah asyik2 aja, dengan sabar menunggu hingga sebungkus besar Q-tela dan sebungkus kacang Garuda, besar juga, diserbu beramai-ramai. 🙂

08.20: Rombongan lengkap berangkat menurut arahan Bayu Wahyudi, seorang pesepeda gunung yang sudah menguasai medan perjalanan. Bismillah….

LANGKAH TEGAP BAYU WAHYUDI

09.15: Setelah kebon Pinus dan (katanya) sebelum Patahan Lembang, kami beristirahat untuk yang pertama kali. Tidak lama memberikan sedikit asupan baik air atau makanan ke perut masing-masing kami melanjutkan perjalanan.

GANTENGNYAAAA...

bersimbah, cape keknya...
never give up to the top!
track favorit Safitri, menurun....
pami jalan ka Jalak Harupat kamana, nya?
peristirahatan pertama

10.30: Istirahat bagian kedua, yaitu di Warung Bandrek, Sekejolang. Ternyata di sini, tidak hanya rombongan kami saja. Sudah lebih dahulu, komunitas pesepeda kongkow-kongkow di sana. Saya mulai merasakan tidak nyaman dengan kondisi kuku dikaki, terasa sakit. Terutama saat kondisi jalan menurun, ujung kuku kaki menekan bagian depan sepatu. Itu sakit sekali. Beberapa teman menyiasati cara berjalan. Mereka, Febry dan Syarif berjalan mundur, “Untuk menyeimbangkan rasa sakit, serasa diurut, coba saja…” kata pa Syarif.

duduk di kursi ki-ka: Indah, Safitri, Beina, dan Syarif. Duduk menghadap kursi: Sudiboy eh Sudibyo.

Sumber foto: Bayu Wahyudi

Saya mulai mengikuti caranya pa Syarif, namun tidak pernah bisa lama berjalan mundur. Akhirnya, saya membuka sepatu jauh-jauh sebelum sampai warung Bandrek. Menapaki jalan aspal berbatu terasa sedikit sakit tapi itu lebih baik dan melegakan daripada kuku kaki sakit sekali. 🙁

2  (dua) gehu akronim dari ‘toge jeung tahu’; bahasa sunda, atau tauge dan tahu, 1 (satu) leupeut, bahasa sunda, atau lontong, terasa cukup mengenyangkan. Kami pun melanjutkan perjalanan.

11.30: Tiba di tempat wisata air terjun Maribaya. Kami tidak masuk, tapi berusaha mencapai jalan raya yang ada seberang sebelah maribaya. Sebab, kami memutuskan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jasa angkot saja.  “Setujuuuuu!” jawab semua orang kita ditanya, “Bagaimana kalau pake angkot saja untuk sampai di rumah Ahmad?”

12.15: Kami sampai di rumah Ahmad. Sudah tersedia nasi liwet, peuteuy, jengkol, ikan asin, ayam goreng, melon, jeruk, air teh, yang secara fisik, nampak sudah menunggu lama untuk di santap. 😀

Istirahat, mandi (kalo saya), solat dhuhur berjamaah. Puncak acara: makan siang. Lahap sekali semuanya….

Sekarang hari Senin, pasca hiking badan ini terasa pegal-pegal. Perlu pemulih sepertinya…

Satu pertanyaan dari saya, “Kapan ini akan terulang?”

Euweuh kakapok.[]

About adetruna.kerja@gmail.com

Saya admin blog ini - fyi, saya pedagang madu online. Tinggal di Soreang, driver 1k km Datsun Risers Expedition etape 2 Sulawesi, penyuka buah duren & nangka.

14 comments

Monggo Komentar :)