BIG SMILE

Berbagi

Inspirasi bisa datang kapan saja dan dimana saja…juga dari siapa saja. Seperti artikel seorang temanku curhat di facebook, inspiratif sekali…Saya akui keren banget. Berikut pemikiran beliau…

Assalamu’alaikum ….

Hari-hari ini rasanya jadi hari-hari yang lumayan mendung, sesuai sama cuaca yang juga mendung-mendung mendukung. Sempat, terucap, bahwa motivasi sedang menurun. Ah, sangat disayangkan ucapan itu keluar dari mulut saya yang orang-orang bilang selalu bersemangat dan ceria. Begitupun anak-anak yang ikut “tertular” menjadi kurang “bergairah” dan kurang “hot” dalam meraup prospek.

Lalu, saya menjadi berpikir. Merenung bahasa kerennya. Apa, kenapa, kok bisa ya? Akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa termotivasi atau tidaknya kita, adalah bergantung kepada diri kita masing-masing. Bukan karena perusahaan, atasan, anak buah, lingkungan sekitar, cuaca, banyaknya bencana, maupun harga kol gepeng yang melambung.

Motivasi yang terbentuk, anggaplah dibagi menjadi dua bagian; eksternal dan internal. Eksternal adalah motivasi yang bersumber dari pihak luar diri kita, seperti kondisi perusahaan, atasan, cuaca, dll. Misal, karena pagi hujan, semangat berangkat kerja kita menurun. Karena dapet SMS mesra dari pasangan, semangat kerja meningkat. Kurang lebih begitulah.

Ada satu hal yang semestinya konstan atau tetap. Yaitu, motivasi dari internal diri kita. Apapun kondisi eksternal yang kita hadapi, motivasi dari hati tersebut, tetap bercahaya. Saya kembali teringat saat membaca buku “Titik Tidak Bisa Balik”. Tentang Karyawan Paradoks.

Saya coba quote sedikit ya, sekedar mengingatkan,

“Tidak ada yang istimewa dari semua yang saya capai, karena semuanya berjalan atas dasar ikhlas dan kerja keras. Itu modal saya.

Kini, saat saya mengelola usaha sendiri, saya mengalami sebuah paradoks….

… Paradoks, karena saat karyawan diterima bekerja, tidak ada etos kerja positif yang ditunjukkan. Mentalitas gampang capek, tidak mau repot hampir menderita karyawan karyawan ini. Akibatnya, mereka belum mendapatkan apa-apa ketika saya memberhentikan mereka.

Saya tidak tahu ini kasus khusus atau tidak. Tapi, benar, dari 100% karyawan saya, 50% bertahan karena mereka cenderung lebih kreatif, proaktif, mau belajar, dan lebih tahan banting.”

– Basri Adhi, Titik Tidak Bisa Balik.

Seperti yang pernah saya sampaikan pada seorang tim, bila kita berhasil dalam pekerjaan ini, maka kemanapun kita pergi insya Allah akan berhasil. Mau kerja di tempat lain, ataupun membangun usaha sendiri.

Nah, motivasi yang sebaiknya tumbuh dalam diri kita, adalah eksistensi ikhlas. Saat seseorang ikhlas menunjukkan eksistensi baiknya, maka otomatis hal-hal baik lainnya akan menyusul dengan sendirinya. Misal; rejeki, silaturahim, ketenangan hati, dll.

Pekerjaan kita bukan semata-mata disemangati oleh besarnya pendapatan, besarnya bonus, besarnya penghargaan, dan lain sebagainya. Sebagai manusia yang berbahagia dengan itu semua, tentu sangat wajar. Maka, jadikanlah motivasi tadi sebagai motivasi eksternal kita. Sedangkan motivasi internal kita, tidak boleh tergoyahkan, harus selalu MODE ON.

Dalam Islam sendiri, Allah swt telah mencontohkan dalam kisah hikmah Siti Hajar di Safa Marwah. Betapa beliau berlarian diantara dua bukit tersebut, dan air zam zam muncul, namun, di tempat yang berbeda.

Bila kita bereksistensi ikhlas, insya Allah, bahasanya Irma mah, “kalau udah rejeki mah moal kamana mana”. Allah dan orang-orang sholeh melihat pekerjaan kita. Dan rejeki itu datang tidak harus selalu dari perusahaan tempat kita bekerja. Dan, satu lagi, rejeki itu tidak harus selalu berwujud harta, tetapi bisa juga ketenangan hati, kesehatan, teman yang baik, saudara yang menyayangi, dan masih banyak lagi.

Dipikir-pikir, kemana The Real Us akhir-akhir ini?? Kita yang sesungguhnya?? Apakah tertutup abu merapi? Atau tersapu tsunami mentawai? Atau jangan-jangan terkotori oleh penyakit hati? naudzubillah.

Semoga Allah senantiasa mengingatkan kita akan niat yang sesungguhnya. Niat ikhlas memberikan manfaat bagi umat. Semoga Allah menjagai hati kita dari kotornya penyakit hati. Bila memang masih banyak hal yang masih perlu diperbaiki, itulah kita, manusia, senantiasa harus selalu belajar dan terus belajar.

“Semua orang pernah berbuat salah. Saya, anda, dan semuanya. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita memperbaiki kesalahan yang sudah kita lakukan setelah menyadarinya”. Perusahaan dan juga leaders, seperti halnya kita, juga tumbuh dan berkembang. Mereka belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri. Dan siapapun yang tidak melakukan hal itu, maka akan tertinggal.

Hayuk kita mulai meng-ON-kan kembali eksistensi ikhlas tadi. Saya suka bahasanya seorang teman, “Saya kerja karena fun dan bisa bermanfaat untuk orang banyak..” dan bahasanya seorang teman (lagi), “hayuk teh Un, semangat, banyak yang bisa kita kerjasamakan..” dan bahasanya (lagi-lagi) seorang teman, “gpp bu, dengan banyak kerjaan, saya jadi bisa banyak belajar..” Bagi saya, mereka adalah pemimpin masa depan.

Kalau teringat perjuangan bersama, jadi suka terharu. Ikutan acara WAMY berhari-hari, ketiduran di jalan ke dayeuhkolot pake acara nyasar, keliling majlis taklim di Jakarta, ‘pms’ pas baru sampe bandara juanda di Surabaya padahal mau presentasi, curcol kalau lagi bete sama bos, dll. Kehujanan, kepanasan, ketawa-ketawa, nangis, waaahh.. priceless. Cukup untuk membuat saya SELALU BERSEMANGAT dateng ke kantor dan kita berjuang bersama-sama.

Jadi kalau besok-besok ditanya, apakah kita termotivasi? jawabannya adalah, YA!!

*BIG SMILE*

23 comments

Tinggalkan Balasan