Hujan? Smile!!!

Berbagi

Berangkat dari rumah pukul 06.30, setelah mengantar Salma yang minta diantar hingga depan pintu kelasnya. Kebiasaan Salma, kalau di depan pekarangan sudah tidak ada teman-temannya, dia yakin kelas sudah dimulai…Saya antar dan benar saja kelas sudah ditutup, Salma saya lihat mengetuk pintu lalu masuk kemudian meminta maaf sama gurunya atas keterlambatannya. Kira-kira seperti itu dari pintu luar saat saya pandangi. Saya kembali ke motor….

Naaaah, dari sinilah awal semuanya…. hujan rintik2 membasahi jok motor bebekku, sebenarnya tanda2 akan hujan sudah nampak sejak mengawali keberangkatan depan rumah… —-menyebutkan ‘rumah’ jadi ingat wajah istriku, Risya, saat melepas pergi bekerja tadi. Yang selalu konsisten, tidak bosan2 bertahun-tahun, mengingatkanku…”SIM sudah? Handphone? Nasi di dalam tas, ya? Hmmm… I ♥ you, always, hun…—- pemandangan cakrawala yang dimendungkan secara merata, tidak ada matahari, hanya sedikit sekali cahayanya tertutup awan abu-abu memberikan tanda hujan akan turun.

Di parkiran SDN Cingcin 03 saya mengenakan jas hujan yang selalu saya ‘bekal’ dalam tasku jenis backpack, tas yang selalu ‘tak gendhong kemana-mana’. Setelah semuanya pas, enak dikenakan, nyaman…saya melaju kecepatan sedang motor bebek yang sudah mengabdi tuannya selama hampir 6 tahun. Saya amati kendaraan dari lawan arah, tidak menunjukkan hujan di depan sana, yang naik motor nampak kering-kering saja, begitupun kendaraan roda empat kering…ring…ring. “Apa saya lepas saja, ya? Gerah kalau terus-terusan dipakai, euy…” Belum selesai memikirkan antara dilepas atau jangan dilepas…1)Gebrét!!! Hujan mengguyur jalanan pas masuk jalan Sulaeman…Alhamdulillah, saya selamat dari guyuran hujan, tapi saya ingat sepatu, sarung tangan ini harus dilepas, mau tidak mau. Saya pun menepi, saya lepas sepatu, juga kaos kaki, saya masukan ke kantong 2)kérésék  kuning. Sepatu dan teman-temannya terbungkus kantong kuning, mirip seperti saya terbungkus jas bukan kuning tapi hitam. Sama-sama terbungkus, sama-sama aman, hujan masih asyik dengan guyurannya…Saya melanjutkan perjalanan.

Ternyata hujan merata, masuk wilayah Cibaduyut, berhenti di stopan yang ada patung sepatu besar pun hujan masih saja tidak mereda. Melaju kembali memasuki wilayah soekarno-hatta pertigaan Cijagra, hujan masih terus membasahi jalanan dan penggunanya. Terakhir, memasuki gerbang kantorku. Hujan mulai sama-sama meredakan iramanya seirama dengan irama knalpot motorku. Motor kuparkir, namun hujan masih terus mencurahkan airnya ke permukaan. Tiba-tiba, saja ada yang tertawa di depanku….”De….bentar-bentar jangan dulu pergi!” kata Yuni sekretaris bosku. “Lho kenapa?” tanyaku heran. Ternyata, saya menggelikannya ‘ngantor’ dengan 3)’nyékér’ :mrgreen:

Saya pun diambil gambarnya via ponsel…Momen ini tidak saya sia-siakan…bergaya dan menyeringai….Smile!!! []


Hujan? Smile!!!

Jargon Sunda:

1) Gebrét! : gambaran suara hujan turun secara tiba-tiba, namun bukan hujan rintik2. Rintik-rintik, lain lagi…(rintik-rintik: Cluk-clak)

2) Kantong kérésék : kantong plastik

3) Nyékér : telanjang kaki, tanpa sandal tanpa sepatu.

29 comments

Tinggalkan Balasan