Dasrun Kuliah (Tujuh Menit)

Berbagi

Ah, kok saya?

Bundamahes sambil cengar-cengir –atas saran Hani— melempar tongkat estafet cerita Dasrun pada saya. Sungguh tidak tepat! Aku pasrah saja…alasan apa dan bagaimanapun, Dasrun tetap harus jadi tulisan… saya tidak berwenang membunuh karakter Dasrun ( sebab membunuh adalah dosa besar :mrgreen: )

===*===

SETELAH BERDOA yang Dasrun lakukan selanjutnya adalah yang membencikan baginya. Ia harus membasuh diri…padahal subuh itu dinginnya menusuk tulang, lebih enak kembali ‘kemulan’. Namun, demi sebuah panggilan ia memaksakan diri, berwudhu. Mushola mesjid hanya dua kelokan setelah “Ruang Mawar” di sebelah kiri. Beres salam dan berdo’a, tiba-tiba saja pria sebelah Dasrun –tadi solat subuhnya masbuk– mendekat guna bersalaman dan langsung bicara,”Mas, saya lagi menderita…. Tidak ada yang lebih menderita kecuali saya.” Ucap lelaki tak dikenal kurus, putih, berkacamata kira² minus 2 dengan nafas menghela.

Meski kaget sedikit Dasrun memperbaiki posisi duduknya, berbalik guna lebih menghormati lawan bicaranya. “Emmm…mas ini dari mana, ya? Eh, Maksud saya, kok bisa menderita? Maaf, saya nggak bermaksud lancang menghina…” ujar Dasrun yang malah kikuk menanggapi ucapan lelaki kurus ini.

“Mas Dasrun…tolong saya. Silakan omong apa saja saya dengarkan. Saya baru bercerai dengan isteri saya…” ucap lelaki itu.
Dasrun sontak saja heran hatinya tercengang, “Haaaah, Orang ini tahu darimana nama saya?” gumam Dasrun dalam hati. Hati Dasrun mengulang satu kata, “Bercerai…”

“Yaaaa…Sampeyan supaya sabar, tawakal, solat.” Dasrun mulai fokus. “Dan jangan pernah membenci istrinya eh, maaf maksudku bekas eh anu…mantan, ya mantan istri! Bahkan kalo sampeyan punya anak, itu yang harus dipikirkan bila perlu bawa anak sama mas-nya.” Ujar Dasrun seperti air yang deras mengalir irama bicaranya. “Jangan sampai menyimpan dendam, jika dirasa ini menyakitkan, sekali lagi ingat anak, dengan mengingat buah hati maka niat jahil akan menjadi niat baik…buktikan mas, sampeyan masih bisa memberi nafkah buat anaknya….Hmm…gitu paling mas, gimana?” Dasrun tidak percaya diri dengan ucapannya, malah seperti tawar menawar dagangan pakai bertanya ‘gimana’ segala.

“Jawaban seperti ini yang saya perlukan, mas Dasrun…Terima kasih banyak, ya. Saya sangat terbantu dengan kuliah ini…Ini ada sedikit rejeki buat biaya pengobatan Rama. Saya tidak bisa berlama-lama ada yang harus saya selesaikan. Udah mulai terang mas Dasrun, assalamu’alaikum…” sembari menyerahkan amplop putih lelaki kurus itu berlalu ke arah “Ruang Melati” ruangan dimana Rama dirawat.

“Eh, mas Sampeyan siapa? Amplop ini ngga us…..ah!” Dasrun melongo. Dasrun berusaha menyusul lelaki itu tapi seperti ditelan ruang waktu, lelaki itu lenyap.

“Kuliah? Sejak kapan saya jadi dosen?” batin Dasrun heran. “Ya Rabb, apakah ini jawaban doaku selama ini…?”kali ini Dasrun bertanya kepada Pangiran. (Dasrun sering berucap dalam doanya, “…Yaa rabb…jika rizqiku masih di langit maka turunkanlah…jika rizqiku sulit maka mudahkanlah…Semuanya adalah milik-Mu Yaa Alloh tuhan yang pengasih lagi penyayang, amiin…yaa Robbal’alamin…-red)

===*===

Pembaca, wejangan Dasrun –kepada lelaki kurus nan misterius yang menderita sebab perceraiannya– di atas tidak lebih dari 7 (tujuh) menit. Bila kita mengutip istilah ‘kuliah’ yang disebutkan lelaki kurus di atas. Dasrun telah memberikan kuliah tujuh menit, benar sekali ternyata seorang Dasrun mampu dituntut memberikan Kultum (Kuliah Tujuh Menit).

Saya tidak berwenang untuk menghentikan kisah Dasrun ini. Saya lempar dengan penuh rasa hormat kepada mas sedjatee saja. Mangga mas yanggakeun 🙂 []

51 comments

Tinggalkan Balasan