Ke Surabaya Bahkan Hingga Madura

Berangkat dari kantor sekira pukul 18.15 untuk menunaikan tugas yang diberikan atasan. Dengan bantuan rekan kerja menyupiri mobil yang disediakan, saya dan manajer pergi ke stasiun Bandung. Takada kemacetan yang berarti, tepat pukul 18.50 sampailah kami di halaman depan gedung stasiun KA Bandung. Sebab, tiket sudah dimiliki sejak sehari sebelumnya, kami langsung mencari gerbong tempat KA Turangga kelas eksekutif menunggu para penumpang. Jam 19.00 kereta pun akhirnya melaju menuju timur pulau Jawa. Lebih tepatnya kami menjurus ke Surabaya.

Sepanjang perjalanan, ada sedikit kegaduhan dari arah belakang barisan tempat duduk. Apa itu? Rupanya, malam itu bertepatan pertandingan antara Indonesia melawan Turkmenistan. Kita ketahui bersama, kedudukan berakhir agregat; 4 – 5 untuk Indonesia. Di saat negara lain memenangkan pertandingan telak… Indonesia nyaris draw atau berpeluang kalah. Tapi, patut acungi jempol buat Firman Utina cs. Lebih baik lagi ya IN-DO-NE-SIA!

Jumat pagi, cerah sekali… Seperti biasa hari Jum’at menampakkan ke-khas-annya. Kami tiba sekira pukul 07.35 di Sta. KA Gubeng Kertajaya, Surabaya. Sebelum benar-benar meninggalkan lokasi Stasiun KA, sempat lama juga menunggui manajerku yang sedang membersihkan badan di toilet umum sekitar stasiun. Saya perhatikan sekeliling, ada live musik di depan peron keluar stasiun, banyak bule berlalu-lalang, apalagi wajah-wajah pribumi wong Suroboyo takluput dari perhatian saya–termasuk memperoleh suatu tulisan lucu.

Entah memang merek dagang atau tidak sengaja saya tidak mengerti, yang pasti bagiku cara menulis donat pada papan reklame tersebut salah eh lucu…

daunat bukan donut

Setelah lama, bosku kelar juga dari bersih-bersih diri, kami langsung mencari tumpangan. Dan tumpangan yang kami tunjuk adalah taksi. Taksi yang kami gunakan, Cipag*nti. Jadi ingat Bandung menyebut nama perusahaan taksi tersebut. Dalam taksi saya sempat memotret oleh-oleh yang hendak kami berikan pada seseorang di tempat tujuan nanti. Saya memotret kopi asli dari pabrik. Di Bandung memang ada pabrik kopi yang terkenal keaslian kopinya, tepatnya di jalan Banceuy.

Koffie Fabriek

Pada sang sopir kami sempat mengajak berbincang-bincang seputar dunia taksi di Surabaya. Menurutnya, taksi tempatnya bekerja hanya berjumlah 200 unit saja, sangat jauh dibandingkan dengan jumlah taksi perusahaan dengan nama burung berwarna biru yang sudah lama eksis di sana, jumlahnya ada 1000 unit. Lantas, saya bertanya tentang idealnya jumlah taksi. Sopir menjawab, memang dengan 1000 unit tidaklah ideal. Tidak sehat jumlah angkutan taksi sebanyak itu…Belum selesai perbincangan tentang jumlah taksi ideal, kami keburu sampai di tempat tujuan.

Tidak membuang-buang waktu, acara betul-betul diefektifkan. Karena ini hari Jumat. Meeting-pun dimulai. Takterasa setelah melalui beberapa hal penting seputar dunia majalah dan tataletak-nya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 lebih. Acara selanjutnya adalah makan siang. Setelah makan siang, meetingpun dibereskan. Sebab waktu dhuhur sudah masuk, dan semuanya wajib melaksanakan sholat Jum’at.

Usai jumatan, tidak adalagi kegiatan dinas lain. Kami benar-benar sudah melaksanakan tugas dengan baik dan -Alhamdulillah- lancar. Namun, untuk segera pulang ke Bandung masih ‘terlalu pagi’. Dari jam yang tertulis pada tiket menunjukkan pukul. 16.30. Masih harus menunggu lagi beberapa jam, kami pun memutuskan untuk memanfaatkan waktu yang lumayan lama menuju jam empat sore dengan berencana jalan-jalan melewati jembatan yang tengah menjadi ikon terbaru kota Surabaya, Jembatan SURAMADU.

Setelah bertanya-tanya pada rekan-rekan di YDSF, tempat kami berkunjung. Akhirnya kami ditawari untuk diantar menggunakan kendaraan yang mereka miliki sekaligus dengan sopir dan pemandunya. Maka, kami pun berangkat, saya, Syamsu-manajerku, Hanafi-pemandu jalan, dan pak sopir, saya lupa namanya. Menurut, pak Hanafi, rute menuju jembatan Suramadu sempat berjalan alot proses pembebasannya. Sebab akses jalan menuju Suramadu, merupakan kawasan padat penduduk. Nah, kemarin jalan tersebut sudah lebar-lebar baik kiri dan kanannya. Jalan lebar dipisahkan oleh sungai yang sekilas saya lihat banyak sampah mengambang pada aliran sungai yang nampak tenang saat itu.

Ada yang mengejutkan, saat hendak masuk menuju jembatan, ternyata ada pintu tol tanpa ambil tiket tapi langsung bayar. Bukan itu yang mengagetkan, akan tetapi tarif tiketnya, sekali masuk harus merogoh kocek senilai 30 ribu! Dua kali kami membayar tiket tol, saat masuk menuju Madura dan saat keluar tol kembali menuju Surabaya. Mahal sekali ya…

Di tengah perjalanan, pak Hanafi bercerita tentang kondisi air sungai yang bercampur dengan air laut. Memang, saya merasa heran dengan tidak bersatunya air, yang sebelah tepi Surabaya merupakan aliran sungai sedangkan sebelah lagi di tepian madura hingga tengah merupakan air laut selat Madura. Sehingga air sangat kontras sekali perbedaannya, cokat dan biru, takbersatu.

Pak Hanafi memberitahu dengan menunjuk arah kiri ketika kendaaran yang kami tumpangi agak di tengah jembatan. Di sanalah PT PAL, tempat memroduksi kapal-kapal besar bahkan hingga kapal selam ada di sana.

Kami juga diceritakan tentang ada sebagian masyarakat Madura mampu pergi dan memberangkatkan orang lain berhaji dari usahanya mengumpulkan besi-besi. Ada pemandangan yang sangat signifikan perbedaannya. Begitu tiba diujung jembatan, artinya sudah memasuki wilayah Madura. Tidak ada pemandangan kesibukan masyarakat perkotaan. Yang ada hanyalah pemadangan tanah merah, gersang. Nampak tenda-tenda buatan. Seperti tempat berjualan. Ada beberapa yang buka, sehingga nampak cenderamata khas Madura, seperti pecut, kuda-kudaan (lumping), layang-layang. Saya kira pemerintah Madura perlu inisiatif untuk dijadikan area wisata yang lebih menarik di sana.

Saat mobil berbalik arah untuk kembali ke Surabaya, sangat kontras sekali pemandangannya. Surabaya dari kejauhan nampak bangunan kokoh, gedung-gedung menjulang, bahkan saya menyaksikan pemandangan kapal terbang dari kejauhan. Takterasa, kami sudah berjalan sejauh panjang jembatan, 5.438 m. Saat di tengah kami berlaku bandel, mengabadikan diri dengan berfoto. Menggunakan kamera handphone, sebagai fotografer dadakan, pak Hanafi memotret kami.

Kami berfoto di tengah jembatan yang pembangunan dimulai pada 20 Agustus 2003 diresmikan oleh presiden Megawati. Inilah cara kami bergaya di area main bridge (jembatan utama) senilai 4,5 triliun rupiah …

Alasan tarif tol masuk jembatan yang terbagi menjadi tiga bagian; jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge) ini senilai 30 ribu, dalam rangka berupaya mengembalikan investasi meskipun hanya separuhnya.

Pada website resmi Suramadu dijelaskan,
“Tarif penyebarangan dengan ferry seharga Rp 70 ribu, jika ditetapkan (tarif tol jembatan Suramadu-red) senilai Rp 35 ribu, minimal bisa mengembalikan sebagian biaya investasi,” — Djoko Kirmanto [Menteri Pekerjaan Umum (PU)]

Selepas dari jembatan yang diresmikan pak SBY pada  10 Juni 2009 ini, pak Hanafi mengantar kami hingga Delta Plaza, kami pun berpisah. Taklama kami sudah di dalam gedung pusat pertokoan, Delta Plaza. Waktu kami pergunakan dengan mengganjal perut yang mulai lapar.

Jam 16.05 kami bergegas menuju sta KA Gubeng Kertajaya dengan berjalan kaki, karena memang tidak jauh dari tempat kami beristirahat. Kereta berangkat pukul 16.30 dan kembali ke Bandung, tadi pagi jam 6.30 di sta KA Kiaracondong. Perjalanan yang  lumayan mengesankan … []

BACA JUGA:

3 Thoughts to “Ke Surabaya Bahkan Hingga Madura”

  1. […] anak-anak jaman sekarang dalam hal pola bermain-main. Tadi pagi, istriku bercerita sebelum saya berangkat kerja. Kemarin, sore-sore si Salma ditanya oleh teman sebayanya, Salwa. “Eh, Salma… Tadi main apa […]

  2. […] Tujuannya jelas, agar konsisten alias ajeg, apa yang dilakukan senantiasa berdasarkan pengalaman dan pengetahuan dari berbagai kejadian yang mewarnai […]

  3. […] nggak? Cerita lebih lengkapnya bisa dikunjungi di wordpress-saya […]

Leave a Comment