Dulu Bermain Gelang Kini Bermain Google

Saya masih ingat masa kecil, dulu permainan itu tergantung musimnya. Kadangkala musim bermain kelereng, berganti musim dengan bermain gambar dan sebagainya. Tidak ada yang namanya internet sebagai sarana untuk bermain-main bagi anak-anak jadul.

Sangat jauh berbeda dengan cara anak-anak jaman sekarang dalam hal pola bermain-main. Tadi pagi, istriku bercerita sebelum saya berangkat kerja. Kemarin, sore-sore si Salma ditanya oleh teman sebayanya, Salwa. “Eh, Salma… Tadi main apa saja?” tanyanya Salwa. Kemudian Salma menjawab, “oh tadi aku bermain Gugel, kalau kamu? Salma balik bertanya. “Aku juga sama… bermain gugel, kok.” Jawab Salwa seraya takmau kalah.

Mendengar cerita tersebut saya merasa lucu dan disadarkan. Sambil menjalankan laju sepeda motor, pikiranku masih seputar kejadian si Salma bermain Google. Kemudian, jadi ingat semalam. Di kamar saat saya buka-buka email, Salma mendekat dan bertanya, “Pap… Aku punya teman di kelas pinter punya Fesbuk, pinter loh main Fesbuknya tapi kalau pelajaran nggak pinter… Salma mau punya fesbuk, ya?”

“Papa mau tanya, mending pinter pelajaran atau pinter fesbukan?” saya malah balik bertanya.
“Pinter pelajaran!” Salma menjawab sigap.
“Ya udah… Nggak usah punya fesbuk kalau begitu. Nanti juga Salma akan bisa sendiri kok bagaimana cara membuat Fesbuk…”

Dari cerita-cerita di atas, saya perlu mengakui, betapa kurangnya saya memberikan pengertian seputar dunia internet kepada anak-anak di rumah. Masalahnya saya tidak merasa perlu untuk menyosialisasikan hal tersebut. Selalu berpikir, “ah nanti pun akan bisa dengan sendirinya…”

Takpernah terlintas bahwa anak-anak setingkat kelas 4 SD sudah mengenal social media. Sehingga —sebenarnya—saat mendengar Salma bercerita tentang temannya yang sudah memiliki akun Facebook sedikit terhenyak sih… Baru sadar, Salma selama ini memendam keinginan untuk memiliki akun FB. Hanya karena Salma takpernah merengek untuk memiliki akun FB ya jadi terpendam saja hasratnya dalam hati. Belum lagi cerita tentang temannya ada yang suka tuiteran. Ah, takhanya Facebook, Twitter pun disebut-sebutnya 🙂

Tadi saat setengah perjalanan jadi memiliki rencana, ke depan selain memperkenalkan game semisal Angry Bird, saya pun akan mengenalkan apa dan bagaimana menggunakan FB. Namun, batin masih saja berperang antara mengenalkan atau jangan. Sebab, kuatir akan muncul sindrom pada diri si anak serupa ketagihan… seperti bapaknya dulu 😛
Tidak saya kenalkan pun terbukti berdasarkan cerita di atas. Si Salma mengatakan istilah “Bermain Gugel” betul-betul alami meluncur dari mulutnya. Bukan lantaran Salma baca-baca lantas menemukan jargon “Bermain Google” lalu disampaikan pada temannya.

Salma yang ingin punya akun Facebook itu ...

Oia, saat Salma bermain google, yang dicarinya pada mesin telusur adalah keyword SM*SH, 7 ICON, dan beberapa nama yang tidak saya kuasai terkait hal-hal yang berbau Korea…. Hmmm, kalau dulu anak-anak itu bermain gelang eh anak-anak sekarang malah bermain google 🙂 []

BACA JUGA:

8 Thoughts to “Dulu Bermain Gelang Kini Bermain Google”

  1. Eeaaa beginilah hidup. :mrgreen:

  2. Wah, Salma jangan maenan pesbuk dulu yah…
    heheheh..
    fotonya Salma cantik deh ms..

    1. @apikecil: makasih mbak… ini aku salma diajarin papah jawab komentar 🙂

  3. pengen french fries-nya 🙁

    *ngiler

    1. waduh … ada yg lagi ngidam nih 😛

  4. saya enggak setuju keponakan saya diajari FBan dulu.. saya lebih setuju jika Salma diajari ngeblog atau nulis.. biar nanti bapake yang posting..

    tertanda,
    Uncle-nya Salma

    1. persetujuan disepakati: Salma belum diperbolehkan FB-an, melainkan nge-blog; diajari nulis trus aku bapaknya yg posting — demikian 8-6! 🙂

Leave a Comment