"MEMAKLUMI PEMIKIRAN PARA PIMPINAN"

Berbagi

pimpinan adil nan berwibawa

Entah kenapa bicara pimpinan kok yang terbayang Soekarno? Kenapa nggak Muhammad SAW? Ah sudahlah… Muhammad SAW, ya nabi ya juga rasul.. Tubuhnya wangi dan karimatik. Kanjeng Rasul terkenal sangat adil dalam kepemimpinannya… Sementara Soekarno ya terkenal dengan sosok yang -juga- karismatik dan orator yang -juga- penuh wibawa (dignity).

Baiklah artikel kali ini kita mulai saja…

Sepengetahuan saya setiap pemimpin memiliki kewajiban membangun ( to build ) dan merawat ( to maintain ) cara pandang jiwa kepemimpinannya. Tujuannya jelas, agar konsisten alias ajeg, apa yang dilakukan senantiasa berdasarkan pengalaman dan pengetahuan dari berbagai kejadian yang mewarnai kepemimpinannya.

Pemimpin yang bijak senantiasa mementingkan korelasi antara cara pandangnya dengan realitas lingkungannya. Bila perlu ‘turun gunung’… Bergaul, berbaur dengan masyarakat di bawahnya. Di samping untuk mengukur kenyataan juga agar mampu menentukan pilihan kebijakan yang akan digulirkan.

O ia … saya menulis sebenar-benarnya dari ‘kacamata’ seorang pegawai–tentunya, resiko seorang pegawai, menerima pergerakannya dipagari dengan batasan-batasan aturan. Aturan yang sudah benar-benar dipertimbangkan secara matang. Pemimpin kita telah membuat aturan sedemikian teliti dan proporsional. Win-win solution … sama-sama untung.

Namun terlepas dari semua hal tersebut di atas, saya dan siapa saja pembaca yang berada di posisi seperti saya, sebagai karyawan harus memiliki jiwa ‘nyegoro’. Segoro itu laut, luas. Maka luaskanlah hati ini untuk senantiasa memaklumi pemikiran para pemimpin.

Pemimpin cerdik selalu membuka diri (wide-open) berupaya mendekatkan diri dengan semua bawahan. Mencari empati itu perlu. Saya pernah membaca, bahwa kekuatan empati akan menghasilkan intuisi untuk bisa membaca perasaan dan pikiran dari bawahan.

Pemimpin yang cerdik berusaha turba alias turun ke bawah mensejajarkan diri dengan semua bawahan. Dengan maksud agar bisa terjalin keakraban di semua level yang ada dalam struktur organisasi, dan sekaligus menyatukan paradigma dengan semua pihak di dalamnya.

Menciptakan komitmen bawahan yang kuat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sehari-hari bisa melalui obrolan santai lho?! Entah saat makan siang. Ataupun saat obrolan santai dipenghujung waktu kerja.

Jadi yaaa … ‘Pemikiran Cerdik’  merupakan harga mati buat sosok pemimpin. Dan psst jangan bilang-bilang ya ini rahasia … Semua bawahan akan patuh dan menyatu dalam satu visi bersama sang pemimpin.

Yuk, belajar memaklumi … termasuk memaklumi pemikiran para pimpinan. SELAMATKAN KELUARGA ANDA! 😉 [sumber gbr]

9 comments

Tinggalkan Balasan