Cerita Kawanku, Kunir si Orang Cerdas

Berbagi

uangMASIH berhubungan dengan uang, seperti artikel saya yang lalu. Salah satu yang tidak bisa dibeli dengan uang adalah berkah yang diberikan sang Kuasa berupa kecerdasan. Seperti kecerdasan yang diberikan-Nya kepada temanku, Kunir. Berikut kisahnya.

“Yah, mulai sekarang… Mamah pasrah. Apapun yang ayah putuskan mama akan terima dengan ikhlas.”—Demikian pesan singkat yang diperlihatkan kepadaku yang ada di handphone milik Kunir, sahabat baik saya selama ini.

Aku akan bercerita saja, ya De….” Sesaat setelah Kunir merasa ada keheranan di wajah saya. Kemudian Kunir kembali bercerita, “Terus terang saja… Sejak Februari kemarin aku tuh sudah pisah ranjang dengan istriku. Makanya aku bisa berada di Bandung sekarang.”

Sesekali saya menyeruput teh manis yang dihidangkan… Kunir kembali melanjutkan kisahnya, “Istriku masih menetap di Palembang… Anak-anak di sana.” Kemudian, sambil memperbaiki posisi duduk saya bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian harus pisah ranjang?”

“Awalnya sih dari keterpurukkan usaha kami di pasar. Tapi, kami tidak salah-salah banget sih… Sebab, sejak pertama kali menangani usaha jualan topi ini sudah dibebani faktor kerugian. Mertuaku menyerahkan bisnis ini saat kondisi usaha dalam keterpurukan… Sejak pertama kali, sudah dibebani hutang-hutang yang menjerat peninggalan orangtuanya (istri).”

“Kenapa disanggupi, padahal hal itu kurang mengenakan bagi kalian?” tanya saya.

“Istriku sebenarnya terbebani dengan semua ini… Akan tetapi entah kenapa dia merasa pede sekali untuk memenej semua ini… Awal berjualan sih lancar. Namun merosot itu setelah kesehatan istriku menurun, sering sakit-sakitan. Yang heran itu, banyak pelanggan yang mengatakan, ‘Bu Ayu… kok nggak berjualan? Setiap lewat selalu saja tutup.’ –Padahal, aku tuh selalu jualan!” nada bicara Kunir agak tinggi.

“Oh…” saya pun melongo. Kunir, menyalakan rokok padahal sudah belasan batang puntung rokok di asbak tengah-tangah kami. Imbasnya, aku jadi perokok pasif saat itu…

“Pernah masalah ini memuncak … Hingga aku dan istriku berbicara dengan situasi genting. Istriku, bilang begini, ‘Mas, saya minta cerai dan anak-anak ikut denganku…’ Lalu aku jawab, ‘Kalo kita cerai apa kita tidak memikirkan mental anak-anak kita ke depan?’” ujar Kunir sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Dan menghembuskannya hingga memendungkan ruangan. Kemudian ceritanya dia lanjutkan…

“Aku malah senang kalau anak-anak ikut dengan kamu… Karena kewajiban aku sebagai ayahnya untuk menafkahi sudah kamu ambil alih. Mau tetap bercerai? –istriku terdiam…” ucap Kunir kali ini dia menyeruput kopi yang sudah lama dilupakannya sehingga kopi menjadi dingin.

“Sekarang kami sedang menjalani ‘pisah ranjang’. Makanya, aku di Bandung ini dalam rangka itu hehehe ” melepaskan tawa kecut.

Saya kemudian bertanya, “Sampai kapan kalian pisah ranjang?”

“Hingga akhir bulan ini (Mei). Aku di Bandung bukan untuk melepas lelah, menghindari anak dan istri di Palembang. Aku harus…bahkan wajib melunasi hutang senilai 40 juta dalam kurun waktu kurang lebih empat bulan, batasnya akhir bulan ini (mei), bayangkan coba, De!”

Obrolan ini berlangsung sambil menikmati tontonan di TV, Sule cs. Sesekali saya dan Kunir menertawakan banyolan-banyolan a la OVJ, celetukannya lucu-lucu –tapi humor slapstick-nya takpernah membuatku lucu…

Itu sepenggal kisah yang disampaikan oleh Kunir beberapa waktu yang lalu. Saya sebagai teman, mengamati dari awal cerita hingga akhirnya, menyimpulkan, bahwa Kunir Sosok Lelaki Cerdas. Kenapa?
Sebab, dengan waktu yang sempit tidak berbanding lurus dengan kewajiban hutang yang dia harus lunasi, ternyata berangsur-angsur mendekati lunas. Notabene, dia bukan seorang karyawan tetap sebuah perusahaan. Tapi dia memiliki banyak sekali pemikiran-pemikiran bisnis yang solutif untuk melonggarkan jeratan hutang yang melilitnya.

Saya pernah mengetahui, dia pernah menjadi mediator dua pihak, satu pihak ingin membuang limbah industri, satu pihak lagi penampung limbah industri. Kalau saya tidak lupa ada sekitar puluhan kontainer televisi LCD yang dianggap expired oleh perusahaan harus dibuang. Nah, membuangnya harus kepada badan usaha yang bergerak di bidang penampungan limbah industri yang mendapatkan ijin resmi dari pemerintah. Dari sini Kunir bisa memperoleh uang komisi dari kedua belah pihak. Lalu dia pakai untuk melunasi hutangnya, hingga bisa meminimalisir jumlah hutang, berangsur-angsur berkurang, meski belum juga lunas…

Dia pernah berujar, “hidup itu harus bebas. Mau kemana saja arah bebas. Tidak sempit. Artinya, jangan sekali-kali memiliki musuh.”

Kunir memberikan gambaran, “Ade mau pergi ke Jakarta, untuk sebuah bisnis yang menguntungkan, tapi karena takut bertemu dengan si X sebab ada pertikaian antara Ade dan si X sampai-sampai perang dingin… Ade mengurungkan niatnya. Maka, apa yang terjadi? Hilanglah sudah peluang mengais rejeki di Jakarta… So… Jangan sekali-kali memiliki musuh.”

“Prinsip usaha itu harus diubah mindset-nya; yang tadinya skill, tempat, dan uang (sebagai modal) menjadi skill, tempat, dan bekerja cerdas. Dengan bekerja cerdas, kita dipacu untuk berpikir, ‘Apa nih yang bisa menjadi uang?’ Sebab bila terus-menerus memikiran uang sebagai modal usaha selamanya berhenti hanya sampai direncana usaha. Silakan pikirkan…” ujarnya bersemangat sekali.

Asyik sekali kemarin itu…

Tapi waktu jua yang memisahkan saya dan Kunir padahal saya masih ingin menyimak ceritanya, terutama semangatnya yang hebat dan caranya berpikir cerdas. Yang paling penting istrinya sekarang sudah mengerti potensi suaminya, Kunir… [sumber gambar]

21 comments

Tinggalkan Balasan