Wali Kelas Salma Datang ke Rumah

Sebenarnya ini cerita beberapa bulan yang lalu. Namun saya kembali teringat setelah teman saya bercerita tentang Nilai: Hasil atau Proses — kontennya bagus deh, silakan pembaca kunjungi 😀

Saya terstimulasi untuk menceritakan pengalaman yang dialami anak kami, Salma. Ini tentang kesalahan pihak guru agama dalam menilai prestasi si Salma.

Istri saya pernah melakukan aksi protes karena nilai agama anak kami, Salma kok tidak sesuai harapan… Waktu itu, orang tua diundang ke sekolah saat pembagian rapor. Sambil buka-buka prestasi selama ini, ada yang membuat Risya terkejut dengan nilai agama yang diraih anak kami. Risya masih di sekolah, dia mencoba berdialog dengan wali kelasnya Salma.

Akhirnya, pemaparan Risya ditampung oleh wali kelasnya Salma. Dan ada pula guru lain atau mantan wali kelas saat Salma duduk di kelas dua, mengiyakan. “Oh benar! Salma itu siswa yang pintar, dan anaknya cepat belajar.” ujar mantan wali kelas Salma di kelas dua dulu.

Saya pribadi bilang begini -setelah diceritakan dan sebelum guru datang ke rumah-, “Salma, benar kamu memiliki kemampuan menguasai pelajaran agama? Dan apakah memang nilai segitu (enam) tidak pantas kamu dapatkan?” Anakku menjawab, “Bener pap… Sehari-hari nilai agama Salma bagus kok … Nilai 6 dirapor tidak pantas buatku!”

Karena yang mengerti lebih jauh tentang kemampuan kecerdasan atau prestasi sekolah si Salma adalah ibunya, saya percaya bahwa apa yang dilakukan istriku, Risya – sudah benar.

Dua hari kemudian … Pagi itu kami semua lengkap berkumpul di rumah. Guru agama dan wali kelas anak kami bertamu ke rumah. Mereka mencoba mengklarifikasi duduk perkara yang sebenarnya.

Tadinya saya berpikiran, “Takusah sampai begitu, biar saja… Toh tidak merusak secara drastis nilai rapor keseluruhan. Peringkat atau ranking juga tetap saja di 10 besar.”

Tapi prinsip orang berbeda-beda, istriku akan sangat bangga bila anaknya memiliki nilai rata-rata yang terbilang baik untuk semua bidang pelajaran. Dan itu tertulis dengan jelas di rapor.

Mereka (wali kelas yang datang ke rumah kami) mencoba menjelaskan bahwa benar terjadi kesalahan; bukan 6 seperti yang tertulis dirapor tetapi seharusnya nilai agama Salma bernilai 8. Ada human error rupanya …

Wali Kelas bertamu ke rumah kami

Jadi, sekali lagi upaya protes yang dilakukan Risya benar. Lain halnya dengan saya, saya memiliki prinsip… Lihat saja nanti di kelas 6, apakah Salma bisa memiliki nilai yang baik yang bisa meluluskannya dan masuk sekolah tingkat menengah di sekolah negeri BUKAN swasta. Pembuktian ini yang menurutku akan membanggakan….

Salma memang anak pintar (untuk sementara ini dan seterusnya -amin). Ayo teruskan semangatmu untuk berprestasi, Salma. Dan buatlah kami bangga memilikimu! []

 

BACA JUGA:

10 Thoughts to “Wali Kelas Salma Datang ke Rumah”

  1. saya pernah mengalami hal yang sama. dan waktu itu, nilai agama saya juga dikurangi! untung saja masih bisa diperbaiki… 😳

    1. sip kalo gitu…gung

  2. Syukurlah kalau begitu, Kang, yang benar 8. 🙂

    Oh ya Kang, tanggal 16-24 januari ini Mbak Irni dari Pontianak mau ke sini. Kopdar gitu…. 😀

    Itu ada posting-annya di sana, pemberitahuan “resmi” bahwa mau ke Bandung. :mrgreen:

    1. Makasih, sop. Kopdar ya? Bang aswi dah tau, kan? Ayuk lah kopdar dah lama nggak ktemu asop 🙂

      1. Waaaah, semua udah saya kasih tahu. 😀
        Bang Aswi, Teh Nchie, sama Teh Erry juga udah. 😀

        Kang Ade bisanya kapan? Kalo siang masih ngantor, ‘kan? Jadi malem ya, bisanya?
        Soalnya Mbak Irni sendiri ada waktu dari hari rabu sampe sabtu. 🙂

      2. Lebih tepatnya ini jadwal Mbak Irni:

        Rabu: Dia gak ada acara dari siang sampe malem.
        Kamis: Dari pagi sampe malem.
        Jumlat: Malemnya juga kosong
        Sabtu: Cuma sampe siang menjelang sore, karena malemnya ada pertemuan.

        1. Rabu! Berarti tanggal 18 ya… kita koordinasi ok?

  3. […] Ngeblog”.   Sisanya, lima orang, saya udah pernah kopdar dengan mereka. Mereka adalah Kang Ade, Teh Nchie, Teh Erry, Teh Dey, dan Mbak Isma.    Sayang sekali, di saat-saat terakhir Bang Aswi […]

  4. bagus kalau ternyata salah

Leave a Comment