Bini dan Anak Gua Dong yang Merugi?

Hati Orang nggak Bisa Ditebak … Itu kira-kira yang tercetus ketika seseorang mendapati kondisi lain tentang orang lain yang selama ini dikenalinya. Saya ambil contoh diri saya sendiri. Bila selama ini saya bersikap A – lalu tiba-tiba jadi B, ketahuilah sikap B inilah yang sebenarnya.

Kenapa harus menutupi sikap B dengan sikap A? Berarti selama ini penuh dengan kepura-puraan dong? Juga perlu diketahui, saya memiliki kekurangan dalam bersikap sampai-sampai harus menutupi dengan sikap lain yang jauh pencitraannya lebih baik. Maka kalau sampai ‘bungkus’ yang menutupi sikap asli seorang ade truna bocor itu berarti ada sebab.

Beberapa hal retorika di depan perlu disimak baik-baik…

Bukankah hal yang wajar menutupi sikap pahit alias kecut dengan menjadikannya manis? Karena takmau sikap kecut atau pahit ini diketahui orang lain maka dibungkusnyalah sikap itu.

Bukankah hal yang terpuji jika orang bertanya baik-baik saat sesuatu menimpanya kepada orang yang diajaknya berbicara?

Sikap asli ade truna bocor, karena itu bagian dari reaksi. Pemandangan mengundang emosi di depan mata saya. Akhirnya, saya bereaksi menyikapi ketidakberesannya. Sungguh tidak ada kaitannya dengan ade truna bekerja di sebuah institusi islam dengan sikap emosi terlontar dari pernyataannya. Sungguh tidak ada kaitan sama sekali dengan predikat senioritas.

Tidak ada asap bila tidak ada api.

Ah kalau sikap asli dah ketahuan orang lain, tentunya akan ada pergeseran penilaian seseorang terhadap ade truna – itu bagi saya sungguh tidak ada masalah. Yang dikatakan masalah itu adalah ketika suatu masalah yang seharusnya diselesaikan antara orang yang tersangkut paut masalah saja, ini malah melebar hingga semua pihak seakan-akan berhak tahu.

Jangan pernah mempertanyakan keimanan seseorang biarlah hanya hamba dan tuhannya saja yang tahu.

Jangan pernah menyebarluaskan permasalahan menjadi ranah publik atau beberapa pihak menjadi tahu …

Saya ade truna yang dipertanyakan kualitas keimanannya oleh seseorang dan di-klaim memiliki kegelapan yang berpotensi menyeret seseorang ke dalamnya… Wow menyeramkan … Yang pertama kali menderita kira-kira siapa? Ya, Bini dan Anak Gua Dong yang Merugi? Ah, elu … Lebay!

BACA JUGA:

11 Thoughts to “Bini dan Anak Gua Dong yang Merugi?”

  1. Waduuuh… Curcol kenapa nih? Sepertinya sangat berdampak begitu dalam, insya Allah ada kemudahan bersama kesulitan..amiin

    1. eh bu Rani – dah sehat bu? Lekas sembuh ya 🙂

  2. wah pake rumus A dan B
    aku malah jadi inget rumus kimia…

    1. @ahsanfile: komentar anda menghibur trim’s :3

    2. he he he, komentarku nggak nyambung sama isinya 😀

      1. @ahsanfile: ndak apa-apa mas, biar nggak tegang :))

  3. Red

    yang mempertanyakan kualitas keimanan kita pastilah bukan orang yg pantas dijadikan teman…kesannya kok usil banget. itu adalah ranah private dimana Tuhan dan kitalah yang tahu.

    1. @Red: cara nge-klaimnya masbro – bikin senewen :))

  4. Yang mempertanggung jawabkan semua “kamuflase” kita ya diri kita sendiri,
    kok repot menilai orang lain, setuju ya Pak.

    1. @ysalma: hampir ke arah sana mbak – maksud saya berkamuflase itu memang perlu …

  5. Persoalan sikap, karakter dan sifat harus disikapi dg bijaksn. mislny ad yg berkt seorng publik figure itu perlu nutupi kekurngn dg kedok dsb, tapi mnurut gue biarpun ad kkurngn tpi klo dia mau mnta maaf itu justru akn mnjadi sebuah kelebihan yg lain. terakhirr… YANG LAIN PURA-PURA, GUE SIH APA ADANYA AJ. hehehee

Leave a Comment