Malam Mingguan di Surga Bareng Keluarga

keluarga

Pagi itu (Sabtu, 9/5), saya memenuhi janji untuk turut hadir dalam sebuah forum diskusi dan pelatihan Jurnalistik yang diadakan di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Acara ini merupakan buah dari pertemuan sebelumnya antara saya dqn Anita Emmayanti atau yang akrab disapa, “ibu Emma” sebulan sebelumnya. Inti perbincangannya waktu itu menekankan masalah Program TIK di kabupaten Bandung. (Baca: Pelatihan Jurnalistik Relawan TIK dan Forum TBM).

Acara berjalan seru karena H. Sarnapi -wartawan senior surat kabar PR– membawakan diskusi secara santai namun tetap serius. Serunya lagi, kami semua kedudukannya setara sebagai ‘siswa’! Mulai dari ibu Emma serta relawan baik RTIK dan FTBM. Takterasa acara diskusi serta pelatihan yang berjalan selama 4 jam pun harus berakhir. Sebab, pak Sarnapi harus mengajar juga di tempat lain.

Setelah makan siang, semua yang hadir pada diskusi dan pelatihan bubar jalan. Massol, teman saya yang jauh-jauh dari kota Bandung menyempatkan hadir pada acara ini, pulang bersama saya ke rumah. Baginya (Massol), dunia jurnalistik itu menarik dan menyenangkan. Itulah kenapa dia sampai istilahnya, “Jauh dijugjug anggang diteang” (meski jauh akan kuturuti, – basa Sunda) untuk mengikuti pelatihan ini …

Di rumah saya yang ‘messy’-nya nggak ketulungan, saya dan Massol hanya sempat berbincang-bincang ‘ngalor-ngidul’ sekitar 1 jam. Pasalnya, pesan SMS dari seorang ibu di seberang kota Bandung masuk, isinya minta dikirim kembali madu ke rumah sakit. Yang menjadi penting dari pesan singkat ibu Susan (pengirim SMS) karena madu digunakan sebagai pembantu penyembuhan penyakit anaknya yang memiliki gangguan lambung yang cukup parah dan masih terbaring di RS. Santosa. Saya pun dengan berat hati mengajak Massol untuk bergegas ke kota Bandung.

Sekitar satu jam saya sampai di rumah sakit tempat bu Susan merawat anaknya, taklama setelah itu saya pulang sendiri. Sebelum saya sampai di rumah sakit, Massol sudah turun dari tumpangan motorku tepat saat kami melintas di Leuwi Panjang. Dan doi melanjutkan perjalanan pulang ke Kawaluyaan menggunakan angkutan umum. Pulang dari RS Santosa sekitar pukul 5 sore. Istirahat sebentar eh saya pun tertidur kecapekan kali ya 😛

Maghrib pun menyongsong, selepas ibadah shalat maghrib saya ajak anak dan istri untuk malam mingguan bersantai di SurGa. Apa itu SurGa? SurGa merupakan akronim dari Surabi Gading. Surabi adalah bahasa Sunda untuk kata Serabi. Setibanya di kedai SurGa, saya memesan surabi oncom campur telor (ayam). Istriku, Risya memesan surabi oncom biasa, anak-anakku lain lagi, si Salma memilih Surabi telor, si Nadya lebih tertarik untuk mencicipi surabi Keju dan Surabi seres (surabi yang ditaburi cokelat warna-warni, kebayang kan?).

Takhanya serabi yang disediakan di kedai yang memasak serabi menggunakan tungku tradisional dengan sumber api dari kayu bakar serta mangkuk dari tanah liat (tembikar), ada juga gerobak yang nangkring di depan kedai yang menjual produk makanan lain. Makanan yang dijual digerobak ini enaknya dimakan hangat-hangat dengan dilumuri kecap dan saos; Cilok! Yup, bener Aci dicolok  merupakan kepanjangan dari cilok. Yang enak dari cilok kedai SurGa adalah daging cincang yang terdapat di dalamnya. Benar-benar gurih, nyam-nyam …! Kami hanya merogoh kocek sebesar 40 ribu, untuk membayar kepuasan Malam Minggu di Surga.

malam minggu di surga bareng keluarga

Berikut harga SurGa:

  • Surabi polos = Rp. 2000,-
  • Surabi oncom = Rp. 2000,-
  • Surabi dengan taburan cokelat = Rp 3000,-
  • Surabi dengan taburan keju = Rp. 4000,-
  • Surabi oncom pakai telor = Rp. 5000,-
  • Cilok = Rp. 500,-

Wokeh … Demikianlah sedikit cerita dari Soreang tentang Malam Mingguan di Surga Bareng Keluarga. Hari Sabtu yang melelahkan … Dari pagi hingga petang kegiatannya padat. Namun semuanya terobati dengan kuliner meski sederhana; berburu surabi dan cilok 😀 Bagaimana dengan malam minggu Anda? Seru juga kah?

SELANJUTNYA: Pelatihan Jurnalistik bersama Relawan TIK dan Forum TBM

One thought on “Malam Mingguan di Surga Bareng Keluarga

Tinggalkan Balasan