Beranda > Berbagi > Ada Kesenjangan Digital di Desa Mekarsari Gambung Ciwidey

Ada Kesenjangan Digital di Desa Mekarsari Gambung Ciwidey

Berangkat dari basecamp RTIK Kabupaten Bandung sekira pukul 9.15 tiba di lokasi sejam kemudian. Saya dan kang Aufa Arham langsung disambut oeh kang Firman dari Komunitas Pelangi Impian. Rupanya, kang Firman inilah yang menjadi fasilitator antara RTIK untuk sosialisasi Internet Sehat & Pengenalan Komputer desa Mekarsari, Gambung Ciwidey tersebut.

Saya awalnya, berpikir, “Ah, gak mungkin hari gini, masih saja ada sekelompok masyarakat yang gaptek alias belum mengenal komputer serta internet, keterlaluan.”

Namun ternyata, benar saja! Saat saya tanya di kelas 8, “Siapa saja yang sudah menggunakan komputer?” Anak-anak takada yang unjuk jari. Lalu, “Siapa yang sudah menggunakan internet?” Juga nggak ada yang unjuk jari. Alhasil, setiap pertanyaan yang berhubungan dengan TIK anak-anak diam.

Ada Kesenjangan Digital di Desa Mekarsari Gambung Ciwidey

Bingung! Saya bingung harus memulai dari mana? Pasalnya, anak-anak dusun di Mekarsari memang berkarakter tertutup, akhirnya saya coba carikan suasana dengan permainan-permainan guna memancing mereka untuk berbicara. Alhamdulillah suasana pun bisa mencair. Ada yang mengharukan sekaligus lucu; tatkala saya beri kesempatan mengoreksi catatan yang salah pada slide presentasi saya tentang Internet Sehat.

Kesenjangan Digital di Desa Mekarsari Gambung Ciwidey

Saya tantang mereka untuk mengoreksi catatan tersebut. Anak-anak bagaikan melihat pemandangan horor, satupun takada yang mau ke depan saya untuk menyentuh laptop dan memperbaiki catatan tersebut (ini sebagai pengenalan langsung tentang komputer).

Akhirnya, ada satu orang yang berani dan yang lainpun mengikuti dan mulai mengeroyok laptop milikku itu 😀 Perasaan miris campur aduk dengan haru, gembira, dan ah ….

“Harapan kami ada bantuan dari pemerintah untuk sekolah perangkat komputer untuk di sekolah,” ujar Melani, salah satu guru Mts Al Amal.

Sekolah Mts Al Amal sudah bergulir sejak 2008 dan di-gratiskan, ironisnya, digratiskan malah tidak ada dukungan dari orangtua.

“Karena gratis malah tidak ada perhatian dari orangtua,” tambah Rima guru lain yang duduk di sebelah bu Melani saat saya ajak dialog.

Faktor dukungan orangtua murid ternyata cukup berperan disaat Teknologi, Informasi, dan Komunikasi seakan-akan terlambat padahal untuk ke kota cukup terjangkau. []

adetruna.kerja@gmail.com
Saya admin blog ini - fyi, saya pedagang madu online. Tinggal di Soreang, driver 1k km Datsun Risers Expedition etape 2 Sulawesi, penyuka buah duren & nangka.
http://blog.kliksoreang.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: