Istriku Pandai Menyulap!

Istriku Pandai Menyulap!

islam, keluarga

Setelah Kemenag RI mengumumkan hasil sidang isbat yang jatuh pada 1 September 2017 – Alhamdulillah … Kami sekeluarga bisa melewati momentum hari raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Dan kemarin pun saya bersama dengan DKM Masjid tempat kami biasa mengaji, melaksanakan pemotongan hewan qurban. Dari tabungan qurban dan tambahan kekurangan dari para donatur, telah terkumpul dana hingga mampu membelanjakan 3 ekor sapi dan 2 ekor domba.

Dari pagi hingga sore kami sekeluarga dan keluarga yang lain, bahu membahu menyelesaikan pemotongan hewan qurban baik sapi serta domba. Dengan dikomandoi oleh ketua DKM Masjid (Roudhotul Jannah – nama masjidnya), tugas setiap orang terbagi-bagi. Ada yang bertugas menyembelih, menguliti, memotong daging, mencuci jeroan, menimbang, memasak hingga pendistribusian daging.

Tidak sampai pukul 5 sore, kegiatan penyembelihan hingga mengemas ke dalam kantong plastik sudah bisa tuntas. Dan selanjutnya, beberapa orang yang sudah ditunjuk untuk menjalankan tugas mendistribusikan daging pun mulai bekerja menyelesaikan rangkaian terakhir dari kegiatan kami waktu kemarin (Jumat, 1/9).

Ada yang menarik saat sebelum proses penyembelihan dilakukan. Terutama di saat akan menyembelih sapi terakhir atau sapi ketiga. Segelintir dari kami memiliki kesimpulan yang sama bahwa, “Harusnya sapi tidak berada dekat dengan lokasi penyembelihan. Pasalnya, ia melihat pemandangan temannya yang disembelih.”

Katanya sih sapi akan stress karena ‘disuguhi’ proses penyembelihan sebelum proses tersebut menimpa dirinya. Dampaknya, karena terpapar pemandangan sapi lain mulai dari dirobohkan diikat lalu disembelih – sapi akan berusaha melawan sekuat tenaga agar tidak disembelih seperti temannya yang sudah lebih dulu diproses penyembelihannya. Sebab itulah, sapi ketiga atau sapi terakhir yang kami sudah persiapakan ini agak sedikit lama prosesnya. Pembaca bisa melihat Video susahnya merobohkan sapi yang akan disembelih untuk qurban di sini.

Dalam video tersebut nampak jelas – bagaimana orang-orang berusaha agar bisa roboh dengan sistem tali silang. Untuk bisa merobohkan sapi, kami memerlukan waktu hingga 10 menit. Namun dalam video saya hanya merekam proses merobohkan sekitar 6 menit saja. Sebab, saya mengira saat sapi roboh pada menit terakhir di dalam video – ia tidak akan bangun lagi! Ternyata, ia mencoba kembali berdiri. Nah, bagian sapi bangun lalu roboh yang kedua itu saya tidak sempat merekam video kelanjutannya.

Usai dari acara penyembelihan, kami pun pulang. Tentunya, kami pulang dengan membawa daging qurban yang kami dapatkan dari pengurus DKM Masjid. Saya tidak mengira akan mendapat otak sapi, hal yang tidak pernah saya duga ini tentunya membuat kami sekeluarga bahagia. Saya aja sih sebenernya 😀

Sesampainya di rumah, saya langsung meminta bantuan Risya, istri saya untuk mengolah daging sapi yang sudah saya dapatkan hasil pemberian dari pengurus masjid Roudhotul Jannah. Melihat kedua bungkusan berisi daging dan otak sapi – istri saya tidak nampak bingung. Hal ini terlihat dari sikapnya, dia begitu kalem memasukkan daging tersebut ke dalam kulkas. Lalu, dia pun ke dapur untuk mengambil beberapa peralatan persiapan mengolah daging dan otak sapi.

Istriku Pandai Menyulap!

Ditinggal pergi untuk memenuhi beberapa janji di luar rumah, istri saya masih terus mengolah daging dan otak sapi untuk menjadi masakan yang penuh selera. Saya mengetahuinya ketika saya berkomunikasi dengan si bungsu, Nadya. “Si Amim lagi di dapur, masak daging sapi. Kayaknya enak deh, aromanya harum … ” jawab Nadya waktu saya tanya, “Mana si Amim, Nad?”

Pukul 21 malam itu, saya pulang dan masuk rumah. Saat membuka pintu, aroma bumbu kuah ciri khas dari masakan daging menyeruak dan menusuk hidung. Sontak nafsu makan pun bangkit dengan begitu semangatnya. “Wah, aroma apa ini?” tanya saya usai ucap salam saat masuk rumah.

“Taraaaaa …,” ucap Istri saya dengan sedikit bergurau ditambah berlagak seperti seorang pesulap yang menunjukkan aksi sulapannya. Daging dan otak sapi mentah waktu qurban sore hari telah disulapnya menjadi sajian makan malam? Luar biasa!

Berikut beberapa olah masakan daging dan otak sapi telah berhasil disulap menjadi sajian lezat untuk disantap sekeluarga.

Otak Sapi Bumbu Kecap
Otak Sapi Bumbu Kecap [dokpri]
Semur daging sapi
Semur daging sapi [dokpri]
Kuah Santan Kuning Otak Sapi
Kuah Santan Kuning Otak Sapi {dokpri]

 

bola-bola daging sapi
bola-bola daging sapi [dokpri]
Citarasa dari sajian menu yang sudah memenuhi meja makan kami di rumah ini sangatlah tinggi! Lezat, bumbu masaknya begitu meresap ke dalam daging dan otak sapi gurih ini. Saya pun lahap sekali menikmati suap demi suap masakan istriku tersebut. Benar-benar Pesulap Ulung! 

Tapi bicara daging qurban ini membuat saya teringat akan kisah Nabi Ibrahim dan Putranya Ismail. Dikisahkan Ismail harus disembelih sesuai perintah Allah dalam Mimpi sang ayah, Ibrahim. Dari sini nampak perangai Ismail sebagai sosok penyabar, dia ikhlas dirinya disembelih selama itu perintah Allah Swt.

Singkat cerita, Ibrahim akan menyembelih anaknya. Dengan penuh rasa sedih dan berat, Nabi Ibrahim mulai menggerakan pisau di leher Ismail namun seketika Allah SWT menggantinya dengan seekor kambing jantan.

Dari cerita Nabi Ibrahim dan Ismail ini telah menginsipirasi jamak orang. Tidak sedikit dari saudara kita yang memberikan nama bayi mereka dengan nama Ismail untuk buah hatinya dengan harapan mampu meneladani kesabaran sesuai dengan karakter nabi Ismail.

Baik itu saja barangkali sedikit cerita random; Istriku Pandai Menyulap! Mulai dari daging dan otak sapi qurban dan juga sajian menu yang menakjubkan ini.  [w1/09-gil)

20 comments

Tinggalkan Balasan