Jatuh Cinta Ini Seperti Dulu…

Berbagi

Tapi, kalau ridho ini mah…” kata si bos kepada saya.

“Apa itu, pak?” balasku bertanya-tanya.

“Tolong bawakan CPU yang ada di mobil, ya?” pintanya sedikit ragu. Karena mungkin saja saya tidak mau disuruh-suruh, apalagi angkat-angkat. Meskipun hanya satu unit CPU.

“Siap, bos!” jawabku lantang penuh semangat.

Dialog di atas adalah sepenggal dari kejadian tadi pagi. Saya sedang jatuh cinta sejak kepulangan dari Islamic Book Fair kemarin. Saat di mobil, saya menemukan sebuah buku lusuh, –mungkin karena sering dibaca kali ya?—sebuah novel dengan judul “Wahsyi Si Pembunuh Hamzah”. Novel ini merupakan buah karya Najib Kailani yang terkenal dengan sebutan “Sastrawan Pergerakan”.

Ini buku lama, tidak ada lagi buku ini di pasaran, sedangkan saya ingin sekali mendapatkannya, paling tidak ada yang meminjamkannya. Sebab, buku itu kepunyaan bos saya yang saya temukan di belakang jok mobilnya. Saya tidak berani membawanya pulang dengan berat hati saya letakkan kembali ke tempatnya.

Wahsyi Si Pembunuh Hamzah
Wahsyi Si Pembunuh Hamzah | Sumber gambar:di sini

 

Dua hari saya terus teringat dengan buku ini, saat masuk kerja hari kemarin si bos absen.

“Waduh, gimana ini?” batin saya kecewa.

Tapi, hari ini saya bahagia sekali! Begitu si bos datang, saya langsung menghampirinya. Saya utarakan maksud saya, beliau memahami dengan penuh keikhlasan buku Wahsyi inipun dipinjamkannya, meski harus ‘dibayar’ saya mengangkat CPU dari parkir hingga ke lantai dua. Sangat tidak apa-apa wong buku yang saya inginkan saya berhasil meraihnya.

Jatuh cinta ini seperti dulu… Ketika saya cinta pada pandangan pertama kepada seorang wanita. Lantas, bagaimana dengan Anda pernahkah merasakan hal yang sama seperti saya? 🙂 []

35 comments

Tinggalkan Balasan