Perasaan Khawatir dengan Artikel Blog

Berbagi

khawatir saat bloggingSore ini awan hitam menyelimuti langit… Di seputar kawasan Kiaracondong, Bandung.

BISMILLAH… Saat menulis sebuah artikel, biasanya saya dihantui perasaan khawatir. Khawatir isi artikel terlalu bertele-tele lah –jikalau itu kepanjangan, khawatir artikel terlalu singkat lah –jikalau itu kependekkan. Atau muncul kekhawatiran bahwasannya isi artikel melenceng dari ide dasar tema blog selama ini…

Ada tiga kekhawatiran dari sekian banyak (sebab saya ingatnya hanya 3 saja 😳 ) akan saya coba uraikan. Berbagi aja sih…nggak lebih. Tidak bermaksud menggurui lho.

Pertama, khawatir menulis artikel yang isinya meminta bantuan

Sebagai blogger tentunya kita memiliki keterbatasan, sehingga tidak selamanya permasalahan terpecahkan sendiri, terkadang memerlukan orang lain, dalam hal ini pembaca. Maka, saat kita menulis, buang jauh-jauh perasaan khawatir, ‘sungkan’ bila isi artikel ketahuan benang merahnya; meminta bantuan pembaca akan suatu hal.

Salah satu contohnya, meminta bantuan pembaca untuk berlangganan blog kita. Justru, cobalah lakukan secara kontinyu permintaan agar pembaca berlangganan blog yang kita miliki. Atau mau barter berlangganan. Ayo siapa takut? 😆

Kedua, khawatir saat mempromosikan blog

Saya awal-awal nge-blog tidak percaya diri dengan apa yang saya pernah tulis. Paling sering muncul perasaan, “Pantas tidak ya… Bila tulisan ini saya submit ke…. ”
Jangan ragu-ragu, promosikan saja tulisan kita. Saya jadi teringat, dengan seorang teman di sini, Ali Muakhir. Untuk mengetahui siapa Ali Muakhir (AM), silakan googling aja ya 🙂

“Percaya dirilah dengan apa yang kita pernah tulis… Kirim saja buah pikiran kita ke beberapa media, baik koran atau majalah…toh pada akhirnya, hanya antara dua pilihan, tulisan itu diterima atau berakhir di tong sampah, beres.”AM

Saat itu AM sedang memotivasi beberapa audience untuk bersemangat membuat tulisan, cerita pendek atau buku cerita.

Atau bila menulis untuk blog, promosi paling sederhana adalah berkomentar. Sebuah bentuk promosi umum dan paling sederhana. Yang menyenangkan itu bila blog yang akan kita komentari, sangat berkaitan atau ada kaitannya dengan tulisan yang sudah pernah atau sedang ditayangkan. Sudah! Tancap gas saja… Berkomentarlah di sana…

Tentu saja berkomentar dengan bahasa yang sopan tidak menyinggung. Maka, berhati-hatilah menyatakan sesuatu. Lebih baik dibaca berulang-ulang sebelum komentar kita tayangkan.

Ketiga atau yang terakhir, khawatir dengan artikel mengungkap yang sifatnya pribadi.

Pembaca… yang saya rasakan, setiap saya membuat tulisan, entah kenapa, ide yang sering muncul malah seputar keluarga. Bisa dicek, beberapa artikel saya –bahkan kebanyakan artikel saya di blog ini mengisahkan tentang saya dan keluarga. Saya acapkali mengetengahkan nama-nama Risya, Salma, dan Nadya. Dan, awal-awalnya saya khawatir, “Kok saya membicarakan masalah keluarga ya… Ah, pending aja gitu artikelnya?” Sebegitunya, lhooo… 🙄

Tapi, akhirnya… setelah menimbang, memerhatikan tulisannya, tidak apa-apa… sah-sah saja. Atau ada yang hendak mengkritik dengan sajian tulisan saya mengenai keluarga? Monggo… Terima kasih. 🙂

Ungkapkan saja apa yang ada dibenak pikiran kita agar perasaan menjadi plong… Karena mengeluarkan uneg-uneg itu ibarat mengeluarkan racun dalam tubuh alias detoxin atau detoxifikasi. Daripada jadi bisul hehehe :mrgreen:

Jadi ya… Buang ‘Perasaan Khawatir dengan Artikel Blog’ yang kita buat, kawan… Selamat beraktifitas 😉 [sumber gambar]

35 thoughts on “Perasaan Khawatir dengan Artikel Blog

  1. saya juga kawatir pak kalau mau nerbitin postingan, pasti sbelum saya terbitin, saya baca2 lagi,,, kawatirnya takut ada yg tersinggung atau tulisan saya nanti bisa nimbulin masalah pa ga yah… gitu2 lah pak.. 😀

  2. hehe…
    Dulu saya juga pernah mengalami kekhawatiran seperti itu… 😳
    Tapi, sedikit-sedikit kekhawatiran itu hilang, dan ngeblog pun jadi lebih nyaman… 😆

  3. setiap orang mungkin memiliki batasan sendiri tentang apa yang ‘tidak akan’ dituliskannya, atau batasan hanya akan menuliskan “tentang apa”. dan saya sepakat dengan alinea kedua dari akhir itu, keluarkan saja, sisanya nomor 17 🙂

    tapi paling tidak, jika sudah berani klik tombol untuk menerbitkan sesuatu, harusnya juga sudah siap dengan segala konsekuensinya, apapun itu.

    btw, kekhawatiran saya dulu, utamanya pada blog terdahulu adalah pada masalah keamanan 😐 tapi sekarang sudah pasrah. hidup bukan milik saya.

    1. sepakat, kang… Bahkan bila perlu terstruktur 5W + 1H saat berpikir menulis ‘ttg apa’…

      Iya…sepatutnya saat klik ‘publish’ saat itu tdk ada pikiran lain selain tulisan siap menerima segala konsekuensi dr pembaca: setuju, kritik, pujian, cacian dll sdh siap ditampung…

      Hidup milik akang lho…dan hidup adalah pilihan halah *nggak nyambung :mrgreen:

  4. kalau menulis artikel saya punya batasan apa yang mau ditulis,
    lebih sering khawatir justru pas balas atau kasih komentar,
    takutnya garing atau menyinggung
    sering kali komen juga kuedit lagi he..he..

    1. sama, mbak… Sy sering berlama-lama saat mau berkomentar, bkn apa2 –mau teoretis, ngga pede, mau guyon malah pede poool…akhirnya komen serius tambah guyon aja deh 8)

  5. Aha.. ternyata bukan cuma saya yang sering merasa khawatir.
    Gimana kabarnya mas? maap baru sempat mampir, kemarin lagi ngamen terus hehehe…

    1. @Masbro: waw! sebuah kabar yang menghebohkan batin saya! Setelah kabar pertam itu kang Achoey dengan novel sahaja-nya kini masbro dengan dunia musiknya! 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *