Merawat Budaya, Masyarakat Lampung Melestarikan 5 Upacara Adat Ini

Travel Wisata

Bagi masyarakat Lampung, tradisi harus dipertahankan meskipun terjadi perubahan zaman. Hal itu terbukti dengan adanya pelaksanaan upacara adat saat momen tertentu sepanjang bulan. Upacara apa saja yang masih dilestarikan oleh penduduk Lampung? Berikut daftarnya.

[1] Bulangekh

Bulangekh (Sumber: ermor.blogspot.com)

Bulangekh, dalam bahasa Indonesia artinya pengobatan dan tolak bala. Upacara ini dilakukan ketika seorang wanita sedang mengandung. Prosesnya dimulai dari memandikan calon ibu yang hamil 1, 3, 5, 7, dan 9 bulan. Waktu memandikan paling baik—menurut kepercayaan masyarakat—yakni di malam bulan purnama pada pukul 19.00.

Pelaksana upacara—selain calon ibu—terdiri dari pihak keluarga dan dukun laki-laki. Sementara itu, syarat upacara bulangekh diurus oleh sang dukun. Beberapa syarat tersebut, antara lain bunga tujuh rupa, rotan, jeruk purut, cumbung capah, dan bara api di dalam dupa. Untuk dukun, pihak keluarga biasanya menyediakan wadah khusus untukmenyipratkan air saat upacara berlangsung.

[2] Gawi

Setiap daerah pasti memiliki tradisi pernikahan tersendiri, termasuk Lampung. Gawi merupakan salah satu upacara adat yang diadakan menjelang pernikahan, kelahiran, maupun momen penting lainnya. Tujuan upacara ini, yakni mengungkapkan syukur atas nikmat dari Sang Pencipta.

Namun, pelaksana upacara Gawi hanya berasal dari kalangan menengah ke atas. Pasalnya, upacara Gawi membutuhkan peralatan cukup banyak sehingga biayanya pun mahal. Untuk masyarakat menengah ke bawah, tidak memiliki kewajiban melaksanakan tradisi ini.

[3] Ngambabekha

Sebelum membuka hutan, masyarakat Lampung mengadakan upacara ngambabekha. Dalam kepercayaan mereka, hutan tersebut memiliki penunggu yang harus dihormati. Harapannya, melalui upacara ngambabekha, para penunggu tidak mengganggu dan bisa berdamai dengan manusia.

[4] Nayuh

Nayuh merupakan tradisi yang diadakan saat masyarakat Lampung menyelenggarakan hajatan. Bentuk hajatan tersebut bisa pernikahan, acara sunatan, mendirikan rumah, atau pesta panen. Intinya, tujuan upacara nayuh adalah memohon keselamatan dan mengungkapkan syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Sebelum upacara nayuh dilaksanakan, biasanya keluarga akan mengadakan rapat keluarga yang disebut himpun. Mereka membahas peralatan dan perlengkapan untuk upacara, seperti tandang bulung, kecambai, nyani buwak, dan khambak bebukha. Ada juga nyekhallai siwok dan begulai.

Kerennya, saat pelaksanaan upacara, keluarga besar dari pihak penyelenggara, memberikan bantuan berupa bahan mentah. Orang Lampung menyebutnya setukhuk, yakni bahan mentah siap masak. Ada pula yang menyerahkan bahan siap hiding atau ngejappang.

[5] Ngumbai Lawok

Ngumbai Lawok (Sumber: silontong.com)

Anda pernah melihat upacara larung saji di pantai selatan? Upacara ngumbai lawok hampir mirip dengan larung saji. Bedanya, yang dilarung dalam acara ini adalah kepala kerbau. Para pelaku upacara menggunakan perahu hias ketika menghanyutkan kepala kerbau ke laut.

Meski berbeda konsep, upacara ngumbai lawok memiliki tujuan sama dengan larung saji, yakni bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka—para nelayan—mensyukuri nikmat karena diberikan hasil laut yang melimpah. Selain itu, dalam upacara, mereka memohon keselamatan selama melaut.

Demikian artikel seputar upacara adat Lampung yang bisa Anda saksikan ketika traveling. Selain upacara tersebut, Lampung masih memiliki banyak tradisi, seperti ngebabali, djujor, belimau, ngebala, dan ngalahumakha. Jika Anda tertarik menelusuri lebih jauh tentang budaya Lampung, persiapkan perjalanan dari sekarang. Caranya dengan memesan tiket pesawat ke Lampung lebih awal.

Untuk mendapatkan info harga tiket Citilink murah, Anda bisa gunakan situs atau aplikasi Airy. Melalui aplikasi ini, semua transaksi dijamin aman dan bebas penipuan. Selain itu, Anda bisa melakukan refund dan reschedule yang mudah saat menemukan kendala dalam perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *